Home 9 Blog 9 89 Desibel dari Lapangan Pickleball & Padel: Fakta Ilmiah di Balik Kebisingan yang Bikin Warga Kota Terganggu Tidurnya!

89 Desibel dari Lapangan Pickleball & Padel: Fakta Ilmiah di Balik Kebisingan yang Bikin Warga Kota Terganggu Tidurnya!

Apr 22, 2026 • 10 minutes read

89 Desibel dari Lapangan Pickleball & Padel: Fakta Ilmiah di Balik Kebisingan yang Bikin Warga Kota Terganggu Tidurnya!

 

Dua olahraga raket yang sedang naik daun, pickleball dan padel, tengah mencuri perhatian jutaan masyarakat Indonesia. Pickleball dimainkan menggunakan bola plastik berlubang (wiffle ball) dan raket padat tanpa senar, sementara padel menggunakan bola bertekanan rendah serupa bola tenis dengan raket solid berlubang. Meski berbeda secara teknis, keduanya menghasilkan karakter suara pukulan yang serupa: keras, tajam, dan berfrekuensi tinggi.[1, 2]

Popularitas kedua olahraga ini melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir — lapangan-lapangan baru bermunculan di kawasan perumahan, pusat perbelanjaan, hingga taman kota. Antusiasme masyarakat yang terus tumbuh mendorong pembangunan fasilitas yang kerap berdiri berdekatan dengan hunian warga. Di sinilah persoalan mulai muncul ke permukaan.[1, 2]

Suara pukulan yang berulang dan tak henti-hentinya, diselingi sorakan pemain, telah berubah menjadi polusi suara yang meresap ke rutinitas harian warga sekitar lapangan. Tidak seperti olahraga raket konvensional, suara khas pickleball dan padel lebih sulit diredam karena frekuensinya yang tinggi dan intensitasnya yang konsisten sepanjang sesi permainan.[1, 2]

Gangguan tidur di malam hari dan kesulitan berkonsentrasi saat bekerja dari rumah menjadi keluhan yang kian sering dilaporkan oleh warga yang tinggal di sekitar lapangan. Apa yang awalnya terdengar sebagai aktivitas olahraga biasa, kini telah berkembang menjadi konflik nyata antara hak berekreasi dan hak atas ketenangan lingkungan hidup.[1, 2]

 

 

Mengapa Suara Pickleball & Padel Terasa Lebih Mengganggu dari Kebisingan Lain?

Ketika raket menghantam bola plastik dalam permainan pickleball, permukaan raket yang padat bergetar dan menghasilkan bunyi dengan frekuensi sekitar 500–1.000 Hz pada tingkat kekerasan 89–91 dB(A). Angka ini jauh melampaui ambang batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 40 dB(A) pada malam hari. Di Indonesia, regulasi serupa diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan, dengan batas 50 dB(A) untuk malam hari dan 55 dB(A) untuk siang hari.[3, 4]

Yang menjadikan suara pickleball lebih bermasalah adalah sifatnya yang impulsif — keras, mendadak, dan berlangsung sangat singkat. Berbeda dengan kebisingan lalu lintas yang bersifat kontinu atau terus-menerus, di mana otak manusia cenderung mampu menyesuaikan diri dan mengabaikannya setelah beberapa waktu, setiap bunyi pop pickleball adalah kejutan baru. Sistem saraf dipaksa bereaksi dari awal setiap kali suara itu muncul, tanpa ada kesempatan untuk beradaptasi.[5, 6]

Sebuah studi psikoakustik membuktikan secara eksperimental bahwa suara impulsif menghasilkan tingkat gangguan yang jauh lebih tinggi dibandingkan suara kontinu, bahkan ketika keduanya diukur pada level desibel yang persis sama. Lebih jauh, paparan terhadap suara impulsif selama 50 menit terbukti memicu respons stres fisiologis yang terukur pada tubuh manusia.[5, 6]

Tiga Jenis Kebisingan

Tiga Jenis Kebisingan.[7]

Kebisingan terbagi dalam tiga kategori utama:[7]

  • Kontinu — stabil dan berlangsung terus-menerus, seperti dengungan mesin
  • Intermiten — muncul secara terputus-putus dengan jeda di antaranya
  • Impulsif — terjadi tiba-tiba, berdurasi sangat singkat, namun berintensitas tinggi; contohnya ledakan atau tembakan

Suara pickleball termasuk dalam kategori impulsif — dan justru di sinilah letak masalah terbesarnya.[7]

Persoalan ini semakin kompleks jika dilihat dari sisi pengukuran. Skala dB(A) yang digunakan hampir di seluruh regulasi kebisingan dunia memang tidak dirancang untuk mengevaluasi suara impulsif secara akurat. Alat ukur desibel standar bekerja dengan menghitung rata-rata tingkat suara selama interval waktu tertentu. Akibatnya, bunyi pop pickleball yang berlangsung dalam sepersekian detik akan terbaca jauh lebih rendah dari intensitas yang sesungguhnya dirasakan oleh telinga manusia — sebuah celah teknis yang membuat dampak nyatanya kerap tidak tertangkap oleh standar regulasi yang berlaku.[8]

 

Kebisingan Pickleball & Padel: Masalah Kesehatan Masyarakat yang Tak Bisa Diabaikan

Sebuah kajian yang diterbitkan dalam Journal of the Acoustical Society of America (April 2025, Vol. 157) membuka perspektif baru soal dampak kebisingan olahraga pickleball terhadap warga sekitar lapangan. Penelitian yang dipimpin Kathleen M. Romito ini menggali secara mendalam sisi psikologis dan fisiologis yang dialami warga yang terpapar suara lapangan secara terus-menerus. Temuan tersebut kemudian dipresentasikan pada Pertemuan ke-189 Acoustical Society of America (ASA), November 2025.[9, 10]

Kesimpulan utamanya tegas: penilaian kebisingan tidak bisa hanya mengandalkan angka desibel. Faktor-faktor seperti stres berkepanjangan dan hilangnya rasa nyaman di rumah sendiri adalah dampak nyata yang tidak tertangkap oleh alat ukur akustik konvensional — menjadikan pendekatan evaluasi yang ada saat ini terasa tidak memadai untuk kasus pickleball.[9, 10]

Dampak kesehatan yang dilaporkan sendiri akibat kebisingan permainan pickleball, serta tanggapan masyarakat

Dampak kesehatan yang dilaporkan sendiri akibat kebisingan permainan pickleball, serta tanggapan Masyarakat.[9]

Data dari survei komunitas ASA tahun 2025 semakin memperkuat temuan tersebut. Dari 440 responden yang berasal dari 264 komunitas terdampak, angka-angkanya berbicara cukup keras:[11]

  • Hampir 3 dari 4 warga yang tinggal dalam radius 300 meter dari lapangan mengaku bisa mendengar suara permainan hingga ke dalam rumah mereka.
  • 8 dari 10 responden menyatakan kebisingan itu secara konsisten mengganggu kemampuan mereka untuk beristirahat dan bersantai.
Mayoritas responden melaporkan suara lapangan yang mengganggu ketenangan

Mayoritas responden melaporkan suara lapangan yang mengganggu ketenangan.[11]

Laporan ASA bertajuk The Noise Nobody Planned For: A Community Perspective on Pickleball Noise (November 2025) menegaskan bahwa dampaknya jauh melampaui soal jarak. Bahkan warga yang tinggal lebih dari 150 meter dari lapangan pun melaporkan tidak bisa menikmati kenyamanan di rumah sendiri. Yang membuat suara pickleball begitu mengganggu bukan sekadar volumenya, melainkan karakternya: impulsif, berulang, mampu merambat jauh, dan berlangsung dalam durasi panjang.[11]

Nicole Laffan, audiolog sekaligus asisten profesor klinis di Bouvé College of Health Sciences, Northeastern University, menambahkan dimensi penting dalam diskusi ini. Ia mencatat bahwa meski tingkat kebisingan lapangan pickleball hanya berkisar 45–70 desibel A (dBA) — jauh di bawah ambang batas yang merusak pendengaran — sifatnya yang impulsif dan tidak bisa dihindari tetap memicu respons stres yang signifikan.[12]

Warga yang terpapar melaporkan kecemasan, gangguan tidur, hingga tekanan psikologis yang berkelanjutan. Pola ini sejalan dengan temuan-temuan dalam riset polusi suara secara luas, dan kini semakin spesifik dikaitkan dengan olahraga pickleball maupun padel.[12]

 

Solusi Mengurangi Kebisingan Pickeball & Padel

Sejumlah negara di Eropa telah mengambil langkah konkret untuk menangani dampak kebisingan dari lapangan padel. Pendekatannya beragam — mulai dari panduan berbasis jarak hingga studi akustik — meski sebagian besar masih bersifat rekomendasi dan belum seragam secara regulasi.[1, 2, 5, 13, 14, 15]

Belanda menetapkan jarak minimal 100 meter antara lapangan padel dan kawasan permukiman, dengan ketentuan jarak yang lebih besar di area yang lebih padat atau tenang. Belgia mengikuti pendekatan serupa, merekomendasikan jarak di atas 100 meter sebagai batas aman. Prancis bahkan menyusun sistem kategorisasi risiko yang lebih terstruktur: jarak di atas 100 meter dikategorikan risiko rendah, jarak 50–75 meter masuk kategori risiko tinggi, dan jarak di bawah 50 meter dinyatakan tidak dianjurkan sama sekali. Pemerintah daerah di Prancis juga didorong untuk melakukan studi akustik, meskipun panduan ini belum bersifat wajib.[1, 2, 5, 13, 14, 15]

Solusi atasi kebisingan suara pickleball & padel di berbagai negara

Solusi atasi kebisingan suara pickleball & padel di berbagai negara.

Tren pengetatan regulasi di Eropa ini mencerminkan kesadaran global yang semakin kuat bahwa pertumbuhan olahraga padel harus diimbangi dengan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya — sebuah prinsip yang kini mulai diadopsi pula di Indonesia.[1, 2, 5, 13, 14, 15]

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil sikap yang lebih tegas. Pengelola lapangan yang tidak patuh terhadap standar lingkungan berpotensi menghadapi serangkaian sanksi: kewajiban memasang peredam kebisingan, pembatasan jam operasional hingga pukul 20.00 WIB, hingga penyegelan permanen bagi fasilitas yang gagal memenuhi persyaratan teknis.[1, 2, 5, 13, 14, 15]

Dengan perencanaan yang matang, penerapan teknologi akustik yang tepat, dan regulasi yang memiliki daya ikat nyata, olahraga padel tetap dapat tumbuh dan berkembang — tanpa harus menjadi sumber keresahan bagi masyarakat di sekitarnya.[1, 2, 5, 13, 14, 15]

 

Kesimpulan

Padel dan Pickleball telah membuktikan diri sebagai olahraga dengan daya tarik besar di tengah masyarakat urban Indonesia. Seperti aktivitas rekreasi lainnya yang berkembang pesat di perkotaan, kehadiran keduanya perlu diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab — termasuk dalam hal kebisingan.

Di berbagai negara, pendekatan utama yang diterapkan untuk mengatasi kebisingan lapangan padel adalah pengaturan jarak antara fasilitas olahraga dan permukiman. Sayangnya, standar ini belum seragam secara global dan sebagian besar masih bersifat rekomendasi, bukan regulasi mengikat.

Sejumlah wilayah memang telah menetapkan panduan yang relatif terperinci, namun pelaksanaannya tetap sangat bergantung pada kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Artinya, efektivitas penanganan kebisingan sangat ditentukan oleh komitmen lokal, bukan semata-mata oleh adanya aturan tertulis.

Dengan pengelolaan yang tepat, padel dan pickleball dapat tumbuh sebagai olahraga yang inklusif dan berkelanjutan tanpa mengorbankan kenyamanan warga sekitar. Momentum pertumbuhan ini justru menjadi peluang bagi pemerintah daerah dan pengelola fasilitas untuk segera menyusun standar operasional yang jelas — mulai dari batas kebisingan, material dinding peredam, hingga zonasi pembangunan lapangan baru. Semakin cepat regulasi hadir, semakin kuat fondasi olahraga ini untuk bertahan dan diterima masyarakat luas.

 

Baca juga:

Kalender Hari-Hari Bidang Kesehatan 2026

Mengenal Tes Cepat Molekuler (TCM) Pada Pemeriksaan TBC

Pemeriksaan Darah Lengkap (CBC) 3 diff & 5 diff: Apa Bedanya?

Hormon Tiroid dan Perannya Bagi Tubuh

Validasi Proses Produksi di Industri Pangan dan Farmasi

 

FAQ Seputar Kebisingan Suara Pickleball & Padel

1. Seberapa Keras Sebenarnya Suara Lapangan Pickleball dan Padel?

Saat raket menghantam bola plastik berlubang, suara yang dihasilkan mencapai 89–91 desibel A (dBA) pada rentang frekuensi 500–1.000 Hz. Angka ini jauh melampaui batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 40 dBA untuk malam hari, maupun batas regulasi nasional dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996, yakni 50 dBA untuk malam hari dan 55 dBA untuk siang hari. Satu pukulan saja sudah melampaui ambang batas tersebut.

2. Apa yang Membuat Suara Pickleball dan Padel Lebih Mengganggu Dari Kebisingan Olahraga Lain?

Perbedaannya bukan pada volume, melainkan pada karakter suaranya yang impulsif — keras, mendadak, dan berlangsung dalam sepersekian detik. Kebisingan lalu lintas yang bersifat kontinu cenderung membuat otak beradaptasi setelah beberapa waktu. Sebaliknya, setiap bunyi pop dari lapangan adalah kejutan baru yang memaksa sistem saraf bereaksi dari awal, tanpa celah untuk menyesuaikan diri.

3. Apa itu Suara Impulsif, dan Mengapa Menjadi Masalah Terbesar?

Kebisingan terbagi tiga kategori: kontinu (stabil dan terus-menerus), intermiten (muncul terputus-putus), dan impulsif (tiba-tiba, singkat, berintensitas tinggi). Suara pickleball dan padel masuk kategori impulsif. Studi psikoakustik membuktikan bahwa suara impulsif menghasilkan tingkat gangguan lebih tinggi dibanding suara kontinu pada level desibel yang sama, dan paparan selama 50 menit terbukti memicu respons stres fisiologis yang terukur pada tubuh manusia.

4. Mengapa Alat Ukur Desibel Standar Tidak Cukup Untuk Menilai Kebisingan Ini?

Skala dBA bekerja dengan menghitung rata-rata tingkat suara selama interval waktu tertentu. Bunyi pop pickleball yang terjadi hanya dalam sepersekian detik akan terbaca jauh lebih rendah dari intensitas yang sesungguhnya dirasakan telinga manusia. Inilah celah teknis yang membuat dampak nyata kebisingan pickleball dan padel sering tidak tertangkap oleh standar regulasi yang berlaku.

5. Apa Dampak Kesehatan dari Paparan Kebisingan Ini Secara Terus-Menerus?

Penelitian Kathleen M. Romito dalam Journal of the Acoustical Society of America (April 2025) menemukan bahwa warga yang terpapar suara lapangan secara berkelanjutan mengalami kecemasan, gangguan tidur, dan tekanan psikologis yang persisten. Audiolog Nicole Laffan dari Northeastern University menegaskan bahwa meski intensitas suara lapangan masih di bawah ambang kerusakan pendengaran, sifatnya yang impulsif dan tidak bisa dihindari tetap memicu respons stres yang signifikan — menjadikan kebisingan ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan masalah kesehatan masyarakat.

6. Seberapa Jauh Suara Lapangan Bisa Terdengar ke Hunian Warga?

Survei komunitas Acoustical Society of America (ASA) tahun 2025 terhadap 440 responden dari 264 komunitas terdampak mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: hampir 3 dari 4 warga dalam radius 300 meter mengaku mendengar suara permainan hingga ke dalam rumah, dan 8 dari 10 responden menyatakan kebisingan itu secara konsisten mengganggu kemampuan mereka untuk beristirahat. Bahkan warga yang tinggal lebih dari 150 meter dari lapangan pun melaporkan kehilangan kenyamanan di hunian sendiri.

7. Negara Mana Saja yang Sudah Menerapkan Regulasi Khusus Untuk Kebisingan Lapangan Padel?

Beberapa negara Eropa telah mengambil langkah konkret. Belanda dan Belgia menetapkan jarak minimal 100 meter antara lapangan padel dan kawasan permukiman. Prancis menyusun sistem kategorisasi risiko yang lebih terstruktur: lebih dari 100 meter masuk risiko rendah, 50–75 meter dikategorikan risiko tinggi, dan di bawah 50 meter dinyatakan tidak dianjurkan sama sekali. Sebagian besar panduan ini masih bersifat rekomendasi, belum menjadi kewajiban hukum.

8. Bagaimana Posisi Regulasi di Indonesia, Khususnya Jakarta?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil sikap lebih tegas. Pengelola lapangan yang tidak memenuhi standar lingkungan menghadapi tiga tingkat sanksi: kewajiban memasang peredam kebisingan, pembatasan jam operasional hingga pukul 20.00 WIB, hingga penyegelan permanen bagi fasilitas yang gagal memenuhi persyaratan teknis. Acuan nasional tetap merujuk pada KEP-48/MENLH/11/1996 dengan batas 50 dBA untuk malam hari.

9. Bisakah Pickleball dan Padel Tetap Berkembang Tanpa Mengorbankan Kenyamanan Warga?

Bisa, dengan tiga pendekatan yang sudah terbukti efektif di berbagai negara: pengaturan jarak minimum antara lapangan dan permukiman, penerapan teknologi akustik seperti dinding peredam pada konstruksi lapangan, serta regulasi jam operasional yang memiliki daya ikat nyata. Tantangannya, standar ini belum seragam secara global — dan efektivitasnya sangat ditentukan oleh komitmen pemerintah daerah, bukan sekadar keberadaan aturan tertulis.

10. Apa Langkah Konkret yang Perlu Segera Diambil Pemerintah Daerah dan Pengelola Lapangan?

Tiga prioritas yang mendesak: penetapan batas kebisingan spesifik untuk fasilitas olahraga raket, standar material peredam sebagai syarat izin pembangunan, dan zonasi yang jelas agar lapangan baru tidak berdiri terlalu dekat dengan kawasan hunian. Semakin cepat regulasi teknis ini hadir, semakin kuat perlindungan bagi warga — sekaligus memberikan kepastian hukum bagi pengelola dalam mengembangkan fasilitas yang bertanggung jawab.

 

PT Medquest Jaya Global

Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:

Pelajari Selengkapnya

 

 

Referensi artikel:

1. Tempo.co. (2026, February 26). Ketika padel bikin gaduh [Infographic]. Tempo.co. https://www.tempo.co/infografik/infografik/ketika-padel-bikin-gaduh-2118168
2. National Task Force on Pickleball Noise. (2025). [Judul halaman tidak tersedia]. Retrieved April 14, 2026, from http://www.pickleballnoise.org
3. World Health Organization. (2011, December 1). Noise. WHO Regional Office for Europe. Retrieved April 14, 2026, from https://www.who.int/europe/news-room/fact-sheets/item/noise
4. Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia. (1996). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang baku tingkat kebisingan.
5. Rajala, V., & Hongisto, V. (2020). Annoyance penalty of impulsive noise – The effect of impulse onset. Building and Environment, 168, Article 106539. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2019.106539
6. Radun, J., Maula, H., Rajala, V., Scheinin, M., & Hongisto, V. (2022). Acute stress effects of impulsive noise during mental work. Journal of Environmental Psychology, 81, Article 101819. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2022.101819
7. Smalt, C. J., Lacirignola, J., Davis, S. K., Calamia, P. T., & Collins, P. P. (2017). Noise dosimetry for tactical environments. Hearing Research, 349, 42–54. https://doi.org/10.1016/j.heares.2016.11.008
8. Rimskaya-Korsakova, L., Pyatakov, P., & Shulyapov, S. (2022). Evaluations of the annoyance effects of noise. Acoustical Physics, 68, 502–512. https://doi.org/10.1134/S1063771022050098
9. Romito, K. M. (2025). Pickleball noise — a qualitative description of the psychological and physiological effects on nearby residents. Journal of the Acoustical Society of America, 157(4, Suppl.), A274. https://doi.org/10.1121/10.0038039
10. Acoustical Society of America. (2025, November). Reevaluating pickleball noise assessment: The case for integrating non-acoustic annoyance factors [Press release]. Retrieved April 14, 2026, from https://acoustics.org/pickleball-noise-and-conflict-its-not-just-the-decibels/
11. Acoustical Society of America. (2025, November). The noise nobody planned for: A community perspective on pickleball noise [Press release]. Retrieved April 14, 2026, from https://acoustics.org/the-noise-nobody-planned-for-a-community-perspective-on-pickleball-noise/
12. Northeastern Global News. (2023, August 7). Noise from pickleball can be annoying. But is it torture? Northeastern Global News. https://news.northeastern.edu/2023/08/07/noise-from-pickleball-can-be-annoying-but-is-it-torture/
13. Wadman, F., Ahlgren, V., Hildén, M., Herrey, C., Björneklett, O., & Nobelius, E. (2021). Buller från padelbanor utomhus: En jämförelse mellan padel och tennis [Technical report]. [Penerbit tidak tersedia].
14. Leroy, T., & Kaiser, X. (2023). Étude acoustique bruit généré par les activités de padel en Wallonie (Rapport CSC N° O3.09.01-22-4659). SGS Belgium SA; Service public de Wallonie. https://environnement.wallonie.be/home/gestion-environnementale/risques-continus-et-pollutions/nuisances-sonores/sources-specifiques/padel.html
15. Dufour, J., & Bonnet, C. (2025). Managing padel-court siting near housing: Guideline adherence shortfalls and populations at risk – national evidence from France. City and Environment Interactions, 29, Article 100300. https://doi.org/10.1016/j.cacint.2026.100300

Share

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.