Peringatan World Tuberculosis Day 2026: “Yes! We Can End TB! Led by Countries, Powered by People”
Peringatan World Tuberculosis Day: Mengapa 24 Maret Menjadi Tanggal yang Penting?
Pada 24 Maret 1882, ilmuwan Jerman Dr. Robert Koch mengumumkan penemuan bakteri Mycobacterium tuberculosis — penyebab penyakit Tuberkulosis (TB). Penemuan itu menjadi titik balik dalam sejarah medis manusia, membuka jalan pertama untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit yang telah merenggut nyawa selama berabad-abad.[1, 2, 3, 4, 5]
Peringatan World Tuberculosis Day (Hari Tuberkulosis Sedunia) bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini adalah panggilan nyata untuk meningkatkan kesadaran, mendorong advokasi kebijakan, dan memperbarui komitmen global — karena meski TB bisa disembuhkan dan dicegah, penyakit ini masih termasuk penyakit menular paling mematikan di dunia hingga hari ini.[1, 2, 3, 4, 5]
Tema Peringatan World Tuberculosis Day 2026

Tema World TB Day 2026.[6]
Tema Hari TB Sedunia 2026 adalah “Yes! We Can End TB! Led by Countries, Powered by People” — “Ya! Kita Bisa Mengakhiri TB! Dipimpin oleh Negara, Didukung oleh Rakyat.”[6, 7]
Tema ini bertumpu pada dua pilar yang saling menopang:[6, 7]
- Led by Countries — Pemerintah di garis terdepan: mengambil kebijakan tegas, mengalokasikan anggaran, dan memimpin gerakan nasional.
- Powered by People — Kekuatan sejati ada pada penyintas TB, tenaga kesehatan, dan komunitas yang bergerak bersama di lapangan.
Tema ini juga menegaskan fokus pada pengujian, pengobatan, dan pemulihan — bukan janji-janji kosong, melainkan tindakan terukur yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.[6, 7]
Mengenal TB: Penyakit Kuno yang Masih Mengancam
Kuman/bakteri Tuberkulosis (TB) menyebar lewat udara ketika penderita batuk atau bersin. Angkanya mengejutkan:[8, 9]

Penyebaran kuman TB.[9]
Bakteri masuk ke saluran pernapasan, bersarang di paru-paru, dan berpotensi menyebar ke organ lain. Yang lebih berbahaya — kuman TB bisa bertahan dormant (tidak aktif) bertahun-tahun di dalam tubuh, lalu aktif kembali saat daya tahan tubuh melemah.[8, 9]
Selain dapat menyerang paru-paru, TB juga dapat menyerang organ lain, yang dikenal dengan istilah TB Ekstra Paru. TB Ekstra Paru adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang terjadi di luar paru-paru, menyumbang sekitar 16–20% dari kasus. Infeksi ini sering menyerang kelenjar getah bening, tulang, sendi, otak, dan ginjal, dan biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri melalui aliran darah dari lokasi infeksi primer. Infeksi ini lebih sering terjadi pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV.[10, 11]
Gejala TB yang Wajib Diwaspadai
Gejala utama adalah batuk berkepanjangan lebih dari 2 minggu — sering diabaikan karena dianggap biasa. Waspadai juga gejala-gejala berikut:[9]
- Demam dan meriang dalam waktu lama.
- Sesak napas dan nyeri dada.
- Berat badan turun drastis tanpa sebab jelas.
- Dahak bercampur darah (stadium lanjut).
- Keringat malam berlebih meski tubuh dalam kondisi istirahat.
- Nafsu makan menurun signifikan.
Fakta kritis: Tanpa pengobatan, 70% penderita TB dengan hasil dahak positif bisa meninggal dalam 10 tahun sejak diagnosis.[9]
Kelompok yang Paling Rentan Tertular
Siapa pun yang berada di dekat penderita TB aktif berisiko tertular. Namun kelompok berikut jauh lebih rentan:[9]
- Anak-anak dan lansia.
- Penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).
- Penderita Diabetes Melitus (DM).
- Perokok aktif dan peminum alkohol berlebihan.
- Penghuni kawasan padat, kumuh, atau ventilasi buruk.
- Penghuni asrama, Rumah Tahanan (Rutan), atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Diagnosis & Pengobatan TB: Kemajuan yang Mengubah Segalanya
Teknologi diagnosis TB kini jauh lebih canggih. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) merekomendasikan uji molekuler cepat (dikenal di Indonesia sebagai Tes Cepat Molekuler (TCM)) yang mampu mendeteksi resistensi obat sekaligus dalam satu pemeriksaan — dan bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat bawah.[8]
1. Regimen Pengobatan TB Sensitif Obat (6 bulan)
- 2 bulan pertama: Isoniazid (H) + Rifampisin (R) + Etambutol (E) + Pirazinamid (Z)[8]
- 4 bulan berikutnya: Isoniazid (H) + Rifampisin (R)[8]
- Tingkat keberhasilan global (2023): 88%[8]
2. Regimen TB Resisten Obat (MDR-TB/RR-TB)
- Regimen BPaLM: Bedaquiline + Pretomanid + Linezolid + Moxifloxacin (disetujui WHO 2022)[8]
- Tingkat keberhasilan naik dari 50% (2012) → 71% (2022)[8]
Pelajari Selengkapnya: Tes Cepat Molekuler Deteksi Tuberkulosis
Pencegahan TB: Langkah Sederhana, Dampak Besar
Langkah pencegahan TB tidak memerlukan teknologi canggih:[12, 13]
- Cuci tangan secara rutin dan menyeluruh.
- Tutup mulut saat batuk atau bersin, gunakan masker.
- Pastikan ventilasi ruangan selalu baik.
- Jalani Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) jika diresepkan dokter — selesaikan penuh.
- Segera periksakan diri jika batuk lebih dari 2 minggu.
Vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) — yang sudah digunakan lebih dari 100 tahun — tetap menjadi satu-satunya vaksin berlisensi untuk TB dan terbukti melindungi anak-anak dari bentuk TB berat. Kandidat vaksin baru M72/AS01E kini sedang dalam uji klinis Fase III bersama 5 kandidat lainnya.[12, 13]
Prevalensi Penderita TB di Indonesia: Data yang Menggugah Nurani
Indonesia berada di peringkat ke-2 dunia dalam jumlah kasus dan kematian TB, hanya di bawah India. Berikut gambaran kondisi terkini tahun 2025:[8, 14, 15]

Data prevalensi TB di Indonesia.[8, 14, 15]
💬 “Sejak ditemukan, TB telah merenggut hingga 1 miliar nyawa di dunia. Setiap tahun ada sekitar 1 juta kematian global, termasuk 125 ribu di Indonesia.” — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada kegiatan Rapat Koordinasi Forum 8 Gubernur.[16]
Percepatan eliminasi TB telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas nasional (quick win) pemerintahan Presiden Prabowo — sebuah pengakuan bahwa TB adalah krisis kesehatan yang tidak bisa lagi ditunda penanganannya.[16]
Baca juga: Mengenal Tes Cepat Molekuler (TCM) Pada Pemeriksaan TB
Tantangan Nyata di Lapangan: Gap yang Harus Segera Ditutup
Tantangan terbesar bukan pada ketersediaan obat, melainkan pada penemuan kasus dan konsistensi pengobatan. Berikut potret kondisi terkini:[16]
Penemuan Kasus:[16]
- Target nasional 2025: menemukan 900.000 kasus
- Realisasi hingga Agustus 2025: 508.994 kasus (47%)
- Hanya Provinsi Banten yang mencapai target notifikasi kasus
Keberhasilan Pengobatan:[16]
- TB Sensitif Obat: 90% pasien mulai pengobatan, namun 0 provinsi capai target keberhasilan terapi 90%
- TB Resisten Obat: hanya Kalimantan Utara yang capai target 80%
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT):[16]
- Target nasional: 72% kontak serumah mendapat TPT
- Realisasi: baru 8% — kesenjangan yang sangat besar dan mendesak untuk diatasi
Waktunya Bertindak, Bukan Sekadar Memperingati
Di balik setiap angka statistik ada manusia nyata — anak-anak, orang tua, pekerja, tetangga — yang berjuang melawan penyakit yang seharusnya sudah bisa dikalahkan. Kampanye TOSS TB (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) adalah kompas yang tepat untuk Indonesia.[5]
Setiap kasus yang ditemukan lebih awal adalah satu nyawa yang diselamatkan, satu rantai penularan yang diputus. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa mengakhiri TB — melainkan seberapa cepat kita bersedia bergerak bersama untuk mewujudkannya.
Baca juga:
Kalender Hari-Hari Bidang Kesehatan 2026
Pemeriksaan Darah Lengkap (CBC) 3 diff & 5 diff: Apa Bedanya?
Tes Cepat Molekuler (TCM) Solusi Pemerintah RI Menangani TB
Validasi Proses Produksi di Industri Pangan dan Farmasi
FAQ Seputar World TB Day 2026
1. Mengapa 24 Maret Diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia?
Pada 24 Maret 1882, Dr. Robert Koch mengumumkan penemuan bakteri Mycobacterium tuberculosis — penyebab Tuberkulosis (TB). Penemuan ini menjadi titik balik sejarah medis dunia. Lebih dari 140 tahun kemudian, TB masih tercatat sebagai penyakit menular paling mematikan di dunia, dengan sekitar 1 juta kematian setiap tahunnya — bukti bahwa peringatan ini bukan seremoni, melainkan panggilan bertindak.
2. Apa Tema World Tuberculosis Day 2026?
“Yes! We Can End TB! Led by Countries, Powered by People” — Dipimpin oleh Negara, Didukung oleh Rakyat. Dua pilar tema ini saling menopang: pemerintah memimpin lewat kebijakan dan anggaran, sementara penyintas TB, tenaga kesehatan, dan komunitas menjadi kekuatan nyata di lapangan. Fokusnya tegas: pengujian, pengobatan, dan pemulihan — bukan janji, melainkan tindakan terukur.
3. Seberapa Berbahaya TB dan Bagaimana Cara Penularannya?
TB menyebar lewat udara saat penderita batuk atau bersin. Bakteri Mycobacterium tuberculosis bisa bertahan dormant (tidak aktif) bertahun-tahun di dalam tubuh, lalu aktif kembali saat daya tahan tubuh melemah. Fakta kritis: tanpa pengobatan, 70% penderita TB dengan dahak positif meninggal dalam 10 tahun. Sejak ditemukan, TB telah merenggut hingga 1 miliar nyawa di seluruh dunia.
4. Apakah TB Hanya Menyerang Paru-Paru?
Tidak. TB juga menginfeksi organ lain — dikenal sebagai Tuberkulosis Ekstra Paru (TB Ekstra Paru) — yang menyumbang 16–20% dari total kasus TB global. Organ yang paling sering terdampak meliputi kelenjar getah bening, tulang, sendi, otak, dan ginjal. Kondisi ini lebih rentan dialami penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) dan individu dengan sistem imun lemah.
5. Apa Saja Gejala TB yang Harus Diwaspadai?
Gejala utama adalah batuk lebih dari 2 minggu — sering diabaikan karena dianggap batuk biasa. Waspadai juga kombinasi gejala berikut: demam dan meriang berkepanjangan, sesak napas dan nyeri dada, penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas, keringat malam berlebih, nafsu makan menurun signifikan, hingga dahak bercampur darah pada stadium lanjut. Dua atau lebih gejala ini muncul bersamaan? Segera periksa ke fasilitas kesehatan.
6. Siapa Kelompok Paling Rentan Tertular TB?
Semua orang yang berada dekat penderita TB aktif berisiko tertular. Namun risiko jauh lebih tinggi pada: anak-anak dan lansia, penderita HIV/AIDS dan Diabetes Melitus (DM), perokok aktif, serta penghuni kawasan padat dan kumuh dengan ventilasi buruk. Penghuni Rumah Tahanan (Rutan) dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) juga masuk kategori rentan tinggi karena kepadatan dan sirkulasi udara yang terbatas.
7. Bagaimana TB Didiagnosis dan Diobati?
World Health Organization (WHO) merekomendasikan uji molekuler cepat yang mendeteksi TB sekaligus resistensi obat dalam satu pemeriksaan. Untuk pengobatan:
- TB Sensitif Obat — durasi 6 bulan dengan kombinasi 4 obat (2 bulan pertama), dilanjutkan 2 obat (4 bulan berikutnya). Tingkat keberhasilan global: 88% (2023).
- TB Resisten Obat (MDR-TB/RR-TB) — menggunakan regimen BPaLM yang disetujui WHO pada 2022. Tingkat keberhasilan melonjak dari 50% (2012) menjadi 71% (2022).
8. Bagaimana Cara Mencegah TB?
Langkah pencegahan efektif meliputi: cuci tangan rutin, tutup mulut saat batuk atau bersin, jaga ventilasi ruangan, dan jalani Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) hingga tuntas jika diresepkan dokter. Vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) — digunakan lebih dari 100 tahun — tetap satu-satunya vaksin berlisensi untuk TB dan terbukti melindungi anak dari bentuk TB berat. Kandidat vaksin baru M72/AS01E kini sedang uji klinis Fase III.
9. Bagaimana Kondisi TB Di Indonesia Saat Ini?
Indonesia menempati peringkat ke-2 dunia dalam jumlah kasus dan kematian TB — dengan ±125.000 kematian per tahun. Kondisi di lapangan masih jauh dari target:
- Penemuan kasus 2025: target 900.000, realisasi Agustus 2025 baru 508.994 kasus (47%)
- Keberhasilan terapi TB Sensitif Obat: 0 provinsi capai target 90%
- Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT): target 72% kontak serumah, realisasi baru 8%
Percepatan eliminasi TB ditetapkan sebagai program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo — pengakuan bahwa ini bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan krisis yang tak bisa ditunda.
10. Apa Tindakan Nyata yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Kampanye TOSS TB — Temukan, Obati, Sampai Sembuh — adalah langkah konkret yang bisa dimulai siapa saja: kenali gejalanya, dorong orang sekitar segera periksa jika batuk lebih dari 2 minggu, dan pastikan penderita menjalani pengobatan hingga tuntas. Setiap kasus yang ditemukan lebih awal = satu nyawa selamat + satu rantai penularan terputus. Tema 2026 ini bukan slogan — “Yes! We Can End TB!” adalah target yang realistis, jika kita semua bergerak bersama.
PT Medquest Jaya Global
Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:
Referensi artikel:
- World Health Organization. (2026). World TB Day. https://www.who.int/campaigns/world-tb-day
- European Centre for Disease Prevention and Control. (2026). Tuberculosis communication. https://www.ecdc.europa.eu/en/tuberculosis/communication
- Pan American Health Organization. (n.d.). World Tuberculosis Day. https://www.paho.org/en/world-tuberculosis-day
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Indonesia’s movement to end TB. https://kemkes.go.id/id/indonesias-movement-to-end-tb
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Apa itu TOSS TBC dan kenali gejala TBC. https://kemkes.go.id/id/apa-itu-toss-tbc-dan-kenali-gejala-tbc
- World Health Organization. (2026). World TB Day 2026: Yes! We can end TB! Powered by people. https://www.who.int/campaigns/world-tb-day/2026
- (2026). [Unggahan Instagram]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DU3IxmBFUdi/
- World Health Organization. (2025). Global tuberculosis report 2025. https://www.who.int/publications/i/item/9789240116924
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Tuberkulosis. Ayo Sehat Kemenkes. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/kesehatan-lainnya/tuberkulosis
- Gopalaswamy, R., Dusthackeer, V. N. A., Kannayan, S., & Subbian, S. (2021). Extrapulmonary Tuberculosis—An Update on the Diagnosis, Treatment and Drug Resistance. Journal of Respiration, 1(2), 141-164. https://doi.org/10.3390/jor1020015
- Lee J. Y. (2015). Diagnosis and treatment of extrapulmonary tuberculosis. Tuberculosis and respiratory diseases, 78(2), 47–55. https://doi.org/10.4046/trd.2015.78.2.47
- Cleveland Clinic. (2025). Tuberculosis. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/11301-tuberculosis#prevention
- World Health Organization. (2025). Tuberculosis. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis
- TB Indonesia. (n.d.). TB Indonesia [Situs web resmi]. https://www.tbindonesia.or.id/
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Indonesia darurat TBC [Unggahan Facebook]. Facebook. https://www.facebook.com/KementerianKesehatanRI/posts/indonesia-darurat-tbctahun-2025-diperkirakan-1090000-orang-di-indonesia-menderit/1433280484829496/
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Menkes dan Mendagri tegaskan komitmen percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) dengan dukungan pemerintah daerah. https://kemkes.go.id/id/menkes-dan-mendagri-tegaskan-komitmen-percepatan-eliminasi-tuberkulosis-tbc-dengan-dukungan-pemerintah-daerah
