Makna Peringatan World Kidney Day 2026
World Kidney Day (Hari Ginjal Sedunia) diperingati setiap Kamis kedua di bulan Maret sebagai kampanye global untuk meningkatkan kesadaran kesehatan ginjal. Sejak pertama kali digagas pada 2006, inisiatif ini terus berkembang di berbagai negara dan komunitas. Penyakit ginjal dapat terjadi pada siapa saja, tanpa batas usia dan wilayah.[1, 2, 3, 4, 5]

Mengenai World Kidney Day 2026.[1]
Peringatan ini menekankan edukasi, pencegahan, dan pemerataan layanan kesehatan ginjal agar dampak penyakit ginjal kronis dapat ditekan secara global.[1, 2, 3, 4, 5]
Makna utama peringatan World Kidney Day mencakup:[1, 2, 3, 4, 5]
- Peningkatan kesadaran publik tentang peran vital ginjal dan risiko penyakit ginjal kronis.
- Deteksi dini dan pencegahan melalui pemeriksaan rutin untuk mencegah kerusakan ginjal progresif.
- Promosi gaya hidup sehat seperti hidrasi cukup, aktivitas fisik, nutrisi seimbang, dan berhenti merokok.
- Akses layanan kesehatan yang setara untuk diagnosis dan terapi penyakit ginjal.
- Kolaborasi global melalui International Society of Nephrology (ISN) dan International Federation of Kidney Foundations (IFKF) untuk meningkatkan kualitas hidup pasien ginjal.
Tema World Kidney Day 2026
Tema World Kidney Day 2026 adalah “Kidney Health for All: Caring for People, Protecting the Planet”, yang berarti “Kesehatan Ginjal untuk Semua: Merawat Manusia, Melindungi Planet.”[1, 6]
Tema ini menyoroti keterkaitan erat antara kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.[1, 6]
Makna tema 2026 meliputi:[1, 6]
- Kesehatan Ginjal untuk Semua: Komitmen menyediakan edukasi, skrining, dan perawatan ginjal secara merata di seluruh populasi.
- Merawat Manusia: Penekanan pada pencegahan dan manajemen penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease/CKD) yang sering tidak bergejala pada fase awal.
- Melindungi Planet: Pengakuan bahwa faktor lingkungan seperti polusi, panas ekstrem, dan dehidrasi dapat memengaruhi fungsi ginjal. Tema ini juga mendorong praktik layanan kesehatan yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak lingkungan.
World Kidney Day 2026 diperingati pada 12 Maret 2026.[1, 6]
Apa itu Ginjal?

Bentuk ginjal.[7]
Ginjal adalah dua organ berukuran sekitar kepalan tangan yang berfungsi menyaring darah dan membentuk urine. Organ ini merupakan bagian dari sistem urinaria.[7, 8, 9]
Setiap hari, ginjal menyaring sekitar 200 liter cairan. Sekitar 2 liter dikeluarkan sebagai urine, sementara sisanya diserap kembali oleh tubuh.[7, 8, 9]
Ginjal juga berperan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit seperti natrium dan kalium, yang penting untuk fungsi tubuh.[7, 8, 9]
Fungsi Utama Ginjal
Ginjal memiliki berbagai fungsi vital, antara lain:[7, 8, 9]
- Membersihkan racun dan sisa metabolisme seperti urea, kreatinin, dan asam.
- Menyaring sekitar 120 mL darah per menit.
- Mengatur keseimbangan asam-basa (pH) darah.
- Menghasilkan glukosa saat kadar gula darah rendah.
- Mengatur tekanan darah melalui hormon renin.
- Menghasilkan hormon kalsitriol (vitamin D aktif) dan eritropoietin untuk pembentukan sel darah merah.
Setiap ginjal mengandung lebih dari 1 juta nefron, unit penyaring darah yang terdiri dari:[7, 8, 9]
- Glomerulus: Menyaring darah pada tahap awal filtrasi.
- Tubulus ginjal: Menyerap kembali air, nutrisi, dan mineral, serta membuang limbah melalui urine.
Penyakit Ginjal Kronis (Chronic Kidney Disease/CKD)
Penyakit ginjal kronis adalah penurunan fungsi ginjal yang berlangsung lama dan bersifat tidak dapat pulih sepenuhnya. Kondisi ini menyebabkan ginjal tidak mampu menyaring limbah, racun, dan kelebihan cairan secara efektif.[10, 11, 12, 13]
Penyakit ginjal kronis berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan sering disebabkan oleh diabetes dan hipertensi. Tahap awal biasanya tanpa gejala, sedangkan stadium lanjut dapat menyebabkan kelelahan, pembengkakan, hingga gagal ginjal yang memerlukan dialisis atau transplantasi.[10, 11, 12, 13]
Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronis

Faktor-faktor yang terkait dengan penyakit ginjal kronis berdasarkan provinsi di Indonesia tahun 2018.[14]
1. Kualitas Air Minum
Air dengan kandungan arsenik, kadmium, timbal, fluorida, atau total padatan terlarut tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis. Kontaminasi tanah akibat pupuk pertanian juga dapat mencemari air tanah dalam jangka panjang.[14]
Air dengan komposisi mineral seimbang mendukung kesehatan ginjal. Pengawasan kualitas air minum menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit ginjal kronis.[14]
2. Pola Makan
Konsumsi makanan tinggi lemak meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Sebaliknya, konsumsi buah dan sayur, serta pembatasan daging merah dan olahan, berkaitan dengan risiko yang lebih rendah. Diet rendah asam juga berpotensi memperlambat progresivitas penyakit ginjal kronis.[14]
3. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis secara signifikan. perawatan diabetes yang komprehensif dapat menurunkan risiko kerusakan ginjal. aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, berhenti merokok, kontrol berat badan, pembatasan garam, dan diet rendah protein direkomendasikan.[14]
Prevalensi Penyakit Ginjal Kronis di Indonesia
![Prevalensi Penyakit Ginjal Kronis berdasarkan Diagnosis Dokter pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun menurut Provinsi, SKI 2023.[15]](https://medquest.co.id/wp-content/uploads/2026/03/Prevalensi-Penyakit-Ginjal-Kronis-berdasarkan-Diagnosis-Dokter-pada-Penduduk-Umur-≥-15-Tahun-menurut-Provinsi-SKI-2023.jpg)
Prevalensi Penyakit Ginjal Kronis berdasarkan Diagnosis Dokter pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun menurut Provinsi, SKI 2023.[15]
Berdasarkan laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tahun 2023 menunjukkan prevalensi penyakit ginjal kronis sebesar 638.178. Provinsi dengan prevalensi tertinggi adalah Jawa Barat dengan penderita sebanyak 114.619, sedangkan terendah adalah Papua Selatan dengan penderita sebanyak 987.[15]
Beban Biaya Penyakit Ginjal Kronis di Indonesia
Biaya terapi gagal ginjal kronis di Indonesia sangat tinggi dan terus meningkat.
Temuan utama (2023–2024):[16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23]
- Biaya terapi bulanan rata-rata: Rp 5,1 juta – Rp 6,2 juta.
- Biaya hemodialisis per sesi: sekitar Rp 500.000 – Rp 836.000.
- Biaya tahunan per pasien dapat melebihi Rp 50 juta.
- Transplantasi ginjal menjadi lebih cost-effective setelah 3–5 tahun dibanding dialisis jangka panjang.
Komponen biaya mencakup biaya medis langsung, biaya non-medis seperti transportasi dan nutrisi, serta biaya tidak langsung akibat kehilangan produktivitas.
Pelajari Selengkapnya: Alat Kesehatan Pemeriksaan Clinical Chemistry
Gejala Penyakit Ginjal Kronis
Penyakit ginjal kronis sering tanpa gejala pada tahap awal. Pada stadium lanjut, gejala yang umum meliputi:[24, 25, 26, 27]
- Pembengkakan pada kaki, tangan, atau pergelangan kaki.
- Perubahan frekuensi dan volume buang air kecil.
- Kelelahan kronis dan gangguan tidur.
- Kulit gatal akibat gangguan metabolisme fosfor.
- Mual, muntah, dan penurunan nafsu makan.
- Kesulitan konsentrasi dan rasa pusing.
- Kram otot dan nyeri tulang.
- Sesak napas dan bau mulut seperti amonia pada stadium lanjut.
Komplikasi Sistemik Penyakit Ginjal Kronis
1. Gangguan Cairan dan Elektrolit
Hiperkalemia, retensi cairan, dan gangguan natrium sering muncul pada stadium lanjut.[28]
2. Hipertensi dan Penyakit Kardiovaskular
Penyakit ginjal kronis meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan.[28]
3. Gangguan Metabolik dan Tulang
Asidosis metabolik, hiperfosfatemia, dan secondary hyperparathyroidism mempengaruhi kesehatan tulang.[28]
4. Anemia Penyakit Ginjal Kronis
Penurunan eritropoietin menyebabkan anemia normositik normokromik.[28]
Diagnosis Penyakit Ginjal Kronis
Diagnosis penyakit ginjal kronis ditegakkan melalui pemeriksaan darah dan urine yang persisten selama minimal 3 bulan.[10, 24, 28]
Pemeriksaan utama:[10, 24, 28]
- Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR): Menilai kemampuan filtrasi ginjal.
- Albumin-to-Creatinine Ratio (ACR): Mendeteksi protein dalam urine.
- Ultrasonografi (USG): Menilai ukuran dan struktur ginjal.
- Biopsi ginjal: Dilakukan pada kasus tertentu untuk menentukan etiologi spesifik.
Individu berisiko tinggi seperti penderita diabetes, hipertensi, dan usia di atas 65 tahun disarankan menjalani skrining rutin.[10, 24, 28]
Terapi Penyakit Ginjal Kronis
Tujuan terapi adalah mengendalikan penyebab, memperlambat progresivitas penyakit, dan mengelola komplikasi:[28, 29]
1. Pengendalian Faktor Penyebab
Pengelolaan tekanan darah dan diabetes menjadi strategi utama. Kerusakan ginjal dapat tetap berkembang meskipun faktor penyebab sudah terkendali, sehingga pemantauan berkelanjutan diperlukan.
2. Strategi Perlambatan Progresi
Pembatasan asupan natrium, pengaturan tekanan darah, diet rendah protein, serta penggunaan ACE inhibitor, ARB, dan SGLT2 inhibitor menjadi strategi standar dalam nefroproteksi.
- Pembatasan garam sekitar 2.000 mg/hari.
- Target tekanan darah ≤ 130/80 mmHg.
- Diet rendah protein sesuai rekomendasi ahli gizi.
- Terapi ACE inhibitor atau Angiotensin Receptor Blocker (ARB).
- Obat antidiabetes kelas SGLT2 inhibitor untuk perlindungan ginjal dan jantung.
3. Mengelola Komplikasi
- Terapi antihipertensi dan diuretik untuk mengontrol tekanan darah dan edema.
- Terapi anemia dengan eritropoietin dan suplementasi zat besi.
- Statin untuk dislipidemia dan pencegahan penyakit kardiovaskular.
- Suplementasi kalsium dan vitamin D untuk mencegah gangguan tulang.
- Terapi bikarbonat untuk asidosis metabolik.
4. Terapi Pengganti Ginjal
Pada stadium akhir, terapi pengganti ginjal diperlukan, meliputi:
- Transplantasi ginjal: Terapi definitif dengan hasil jangka panjang terbaik.
- Dialisis: Hemodialisis atau dialisis peritoneal untuk menggantikan fungsi filtrasi ginjal.
- Perawatan paliatif: Fokus pada kenyamanan dan kualitas hidup bagi pasien yang tidak menjalani dialisis atau transplantasi.
Baca juga:
Kalender Hari-Hari Bidang Kesehatan 2026
Pemeriksaan Darah Lengkap (CBC) 3 diff & 5 diff: Apa Bedanya?
Hormon Tiroid dan Perannya Bagi Tubuh
Validasi Proses Produksi di Industri Pangan dan Farmasi
FAQ Seputar World Kidney Day 2026
- Apa itu peringatan World Kidney Day?
Kampanye global untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, dan akses layanan kesehatan ginjal; tahun ini diperingati tanggal 12 Maret 2026.
- Apa tema World Kidney Day 2026?
“Kidney Health for All: Caring for People, Protecting the Planet” — kesehatan ginjal merata dan layanan ramah lingkungan.
- Siapa penggerak utama kampanye?
Organisasi dan yayasan ginjal internasional seperti International Society of Nephrology (ISN) dan International Federation of Kidney Foundations (IFKF) bersama otoritas kesehatan lokal.
- Siapa yang berisiko terkena Penyakit Ginjal Kronis (Chronic Kidney Disease/CKD)?
Penderita diabetes, hipertensi, lansia, perokok, dan orang dengan paparan air/lingkungan tercemar; CKD bisa menyerang siapa saja.
- Apa fungsi utama ginjal?
Menyaring darah, membuang racun lewat urine, mengatur cairan/elektrolit, mengontrol tekanan darah, dan memproduksi hormon penting.
- Bagaimana deteksi dini dilakukan?
Pemeriksaan berulang ≥3 bulan: Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) dan Albumin-to-Creatinine Ratio (ACR); USG atau biopsi bila perlu.
- Langkah pencegahan sederhana?
Cukup hidrasi, aktivitas fisik, diet rendah garam dan lemak jenuh, kendalikan gula dan tekanan darah, hindari rokok, periksa kualitas air.
- Gejala yang harus diwaspadai?
Pembengkakan anggota tubuh, perubahan buang air kecil, kelelahan, kulit gatal, mual, kram otot, dan sesak napas pada stadium lanjut.
- Pengobatan utama untuk CKD?
Kontrol penyebab (diabetes/hipertensi), diet, obat nefroprotektif (mis. ACE inhibitor, ARB, SGLT2 inhibitor), dan terapi pengganti ginjal bila diperlukan (dialisis/transplantasi).
- Mengapa peringatan ini penting secara ekonomi?
Deteksi dini dan pencegahan menurunkan beban klinis dan biaya tinggi terapi akhir, sehingga menguntungkan pasien dan sistem kesehatan.
PT Medquest Jaya Global
Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:
Referensi Artikel:
- World Kidney Day. (2026). 2026 activities guide. Retrieved February 24, 2026, from https://www.worldkidneyday.org/knowledge-bank-files/2026-activities-guide/
- Pemkot Malang. (2022). [Instagram post]. Instagram. Retrieved February 24, 2026, from https://www.instagram.com/p/Ca7G19bpkqK/?img_index=1
- UPTD Puskesmas Ngemplang. (2025). [Instagram post]. Instagram. Retrieved February 24, 2026, from https://www.instagram.com/p/DHHscw-TneV/?img_index=2
- International Society of Nephrology. (n.d.). In action — advocacy — World Kidney Day. Retrieved February 24, 2026, from https://www.theisn.org/in-action/advocacy/advocacy-activities/world-kidney-day/
- International Society of Nephrology. (n.d.). Initiatives — World Kidney Day. Retrieved February 24, 2026, from https://www.theisn.org/initiatives/world-kidney-day/
- World Kidney Day. (2026). 2026 campaign — 2026 theme. Retrieved February 24, 2026, from https://www.worldkidneyday.org/2026-campaign/#2026theme
- Cleveland Clinic. (2025). Kidney. Retrieved February 24, 2026, from https://my.clevelandclinic.org/health/body/21824-kidney
- National Kidney Foundation. (n.d.). Kidney function. Retrieved February 24, 2026, from https://www.kidney.org/kidney-topics/kidney-function
- Garza FA, & Leslie SW. (2025). Anatomy, abdomen and pelvis: Kidneys. In StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482385/
- (2023). Kidney disease. Retrieved February 24, 2026, from https://www.nhs.uk/conditions/kidney-disease/
- Pan American Health Organization. (n.d.). Chronic kidney disease. Retrieved February 24, 2026, from https://www.paho.org/en/topics/chronic-kidney-disease
- (n.d.). Chronic kidney disease. Retrieved February 24, 2026, from https://medlineplus.gov/chronickidneydisease.html
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About chronic kidney disease. Retrieved February 24, 2026, from https://www.cdc.gov/kidney-disease/about/index.html
- Hidayangsih, P. S., Tjandrarini, D. H., Sukoco, N. E. W., Sitorus, N., Dharmayanti, I., & Ahmadi, F. (2023). Chronic kidney disease in Indonesia: Evidence from a national health survey. Osong Public Health and Research Perspectives, 14(1), 23–30. https://doi.org/10.24171/j.phrp.2022.0290
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Dalam Angka. Retrieved February 25, 2026, from https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/
- Sunariyanti, E., Andayani, T. M., Endarti, D., & Puspandari, D. A. (2023). Cost analysis of therapy of chronic kidney disease inpatient in Indonesia. Research Journal of Pharmacy and Technology, 16(4), 1781–1789. https://doi.org/10.52711/0974-360X.2023.00293
- Sari, S., Suhada, Z., & Triagustini, T. (2023). Cost of illness of patients with chronic kidney failure at Arifin Achmad District General Hospital in Riau Province. Jurnal Ilmiah Farmasi, 19(2). https://doi.org/10.20885/jif.vol19.iss2.art10
- Hadning, I., Wirakarsa, M. H., & Tandah, M. R. (2022). Cost of illness for chronic kidney disease treatment with hemodialysis in Yogyakarta. Jurnal Berkala Kesehatan, 18(1), 1–7. https://doi.org/10.20527/jbk.v18i1.12818
- Nasution, A., Syed Sulaiman, S. A., & Shafie, A. A. (2013). Cost-Effectiveness of Clinical Pharmacy Education on Infection Management among Patients with Chronic Kidney Disease in an Indonesian Hospital. Value in health regional issues, 2(1), 43–47. https://doi.org/10.1016/j.vhri.2013.02.009
- Prisnamurti, F. H., Ghinorawa, T., & Tranggono, U. (2021). Cost-effectiveness of hemodialysis, peritoneal dialysis and kidney transplantation at dr Sadjito General Hospital in 2018-2020. Indonesian Journal of Biomedical Science, 15(2). https://doi.org/10.15562/ijbs.v15i2.345
- Hustrini, N. M., Susalit, E., Harimurti, K., Haryoso, I. S., Legrans, A. E., Damarjati, K., Minangsih, S., Nurhisan, L., Zaini, M., Oktavianti, S., Pratiwi, S., Pradesa, M. G., Anthony, G., Sari, D. W. R., Purnama, R. C., Puspitasari, W. R. M., Rajagukguk, M. J., van Diepen, M., & Rotmans, J. (2025). Prevalence, incidence and risk factors of chronic kidney disease in people with diabetes and hypertension, and the prognosis and kidney function decline in Indonesia: a multicentre cross-sectional study in primary care centres. BMJ open, 15(10), e103779. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2025-103779
- Kristina, S. A., Endarti, D., Andayani, T. M., & Aditama, H. (2021). Cost of illness of hemodialysis in Indonesia: A survey from eight hospitals in Indonesia. International Journal of Pharmaceutical Research, 13(1), 2577–2583. https://doi.org/10.31838/ijpr/2021.13.01.375
- Sunariyanti, E., Andayani, T. M., Endarti, D., & Puspandari, D. A. (2023). Cost Analysis of Chronic Kidney Disease Patients in Indonesia. ClinicoEconomics and outcomes research : CEOR, 15, 621–629. https://doi.org/10.2147/CEOR.S388547
- (2023). Kidney disease — symptoms. Retrieved February 24, 2026, from https://www.nhs.uk/conditions/kidney-disease/symptoms/
- National Kidney Foundation. (2025). Signs and symptoms of kidney disease. Retrieved February 24, 2026, from https://www.kidney.org/kidney-topics/signs-and-symptoms-kidney-disease
- National Kidney Foundation. (2023). Chronic kidney disease (CKD). Retrieved February 24, 2026, from https://www.kidney.org/kidney-topics/chronic-kidney-disease-ckd
- (2025). Chronic kidney disease — general information (ICD: 000471). Retrieved February 24, 2026, from https://medlineplus.gov/ency/article/000471.htm
- Vaidya SR, Aeddula NR. Chronic Kidney Disease. [Updated 2024 Jul 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK535404/
- Mayo Clinic. (2025). Chronic kidney disease — Diagnosis & treatment. Retrieved February 24, 2026, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-kidney-disease/diagnosis-treatment/drc-20354527