Thromboelastography (TEG): Alat Pemantau Pembekuan Darah Real-Time yang Mengubah Cara Dokter Menangani Perdarahan Postpartum
Ruang bersalin menyimpan dua sisi yang kontras: kegembiraan menyambut kehidupan baru, sekaligus tekanan klinis yang tinggi demi menjaga keselamatan sang ibu. Setiap menit pascapersalinan memiliki bobot medis tersendiri, dan tim dokter tidak punya ruang untuk menebak-nebak.
Perdarahan postpartum — perdarahan hebat yang terjadi setelah melahirkan — tercatat sebagai salah satu komplikasi paling berbahaya di dunia kebidanan. Kondisi ini tergolong kegawatdaruratan medis yang menuntut respons cepat, akurat, dan berbasis data.
Teknologi Thromboelastography (TEG) hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Alat ini mampu memantau proses pembekuan darah pasien secara real-time, sehingga tim medis dapat membaca situasi klinis dengan presisi dan mengambil keputusan terapeutik tanpa harus menunggu lama.
Apa itu Perdarahan Postpartum?
Postpartum hemorrhage (PPH) atau perdarahan postpartum adalah kondisi kehilangan darah dalam jumlah besar yang terjadi setelah proses persalinan selesai. Dalam dunia kebidanan, PPH masuk dalam kategori komplikasi obstetri paling serius — komplikasi yang perjalanannya bisa sangat cepat dan berujung fatal apabila respons medis terlambat.[1]
Tanpa penanganan yang segera dan tepat sasaran, PPH berisiko memicu syok hipovolemik, kegagalan fungsi organ, bahkan kematian ibu. Kondisi ini dapat muncul baik pada persalinan pervaginam maupun persalinan melalui tindakan bedah sesar (sectio caesarea), dan dalam banyak kasus berkembang hanya dalam hitungan menit.[1]
Secara global, PPH tercatat terjadi pada 1%–3% dari seluruh persalinan di dunia. Angka ini terlihat kecil, namun dampaknya signifikan: PPH berkontribusi pada sekitar 8% kematian ibu di negara-negara berkembang, dan hingga kini masih menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas maternal di berbagai belahan dunia.[1]
Berdasarkan waktu kemunculannya, PPH dibagi menjadi dua jenis. PPH primer terjadi mulai dari fase ketiga persalinan — yaitu sejak plasenta lahir — hingga 24 jam pertama setelah melahirkan. Adapun PPH sekunder muncul lebih lambat, yakni antara lebih dari 24 jam hingga 12 minggu pascapersalinan.[1]
Penyebab Perdarahan Postpartum
Para klinisi mengenal empat kategori utama penyebab PPH yang dirangkum dalam kerangka “4T”: Tone, Trauma, Tissue, dan Thrombin. Keempat faktor ini bisa muncul secara terpisah maupun bersamaan, dan seluruhnya memerlukan respons medis segera.[1]
Tone merujuk pada kondisi yang dikenal sebagai uterine atony — yaitu ketika otot rahim gagal berkontraksi secara memadai setelah plasenta lahir. Ini merupakan penyebab paling umum dari PPH. Trauma mencakup robekan pada jalan lahir (laserasi) maupun robekan dinding rahim (ruptur uteri) akibat proses persalinan.[1]
Tissue berkaitan dengan tertinggalnya jaringan di dalam rahim, seperti sisa plasenta atau gumpalan darah yang tidak keluar sempurna. Sementara itu, Thrombin mengacu pada gangguan pada sistem pembekuan darah — baik berupa defisiensi faktor koagulasi maupun kondisi koagulopati yang membuat darah sulit membeku secara normal.[1]
Perlu dipahami pula bahwa PPH tidak selalu terjadi segera setelah melahirkan. PPH sekunder — yang juga disebut late postpartum hemorrhage — didefinisikan sebagai perdarahan yang muncul dalam rentang 24 jam hingga 12 minggu pascapersalinan, sehingga pemantauan ibu tidak berhenti di ruang bersalin saja.[1]
Apa itu TEG (Thromboelastography) dan Bagaimana Cara Kerjanya?
![Diagram alat tromboelastografi dan grafik yang dihasilkan oleh pengujian tersebut beserta nilai-nilai penting yang diperoleh dari grafik tersebut.[2]](https://medquest.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Diagram-alat-tromboelastografi-dan-grafik-yang-dihasilkan.jpg)
Diagram alat tromboelastografi dan grafik yang dihasilkan oleh pengujian tersebut beserta nilai-nilai penting yang diperoleh dari grafik tersebut.[2]
Thromboelastography (TEG) adalah pemeriksaan laboratorium yang dirancang untuk menilai proses pembekuan darah secara menyeluruh — mulai dari pembentukan bekuan, kekuatannya, hingga proses pelarutannya kembali (lisis). Pemeriksaan ini menggunakan whole blood (darah utuh) dan mampu menghasilkan gambaran dinamis yang membantu tim medis mengidentifikasi pasien dengan gangguan koagulasi (koagulopati) secara lebih akurat.[2]
Dengan informasi yang dihasilkan TEG, dokter dapat menentukan produk darah mana yang benar-benar dibutuhkan pasien, menghindari transfusi yang tidak perlu, sekaligus mempercepat pengambilan keputusan klinis di situasi kritis.[2]
Secara teknis, pemeriksaan TEG bekerja dengan menempatkan sampel darah ke dalam sebuah cup kecil yang berputar, dengan sebuah pin tersuspensi di dalamnya. Seiring darah membeku, perubahan kekuatan dan viskositas bekuan akan menggerakkan pin tersebut — gerakan ini kemudian dikonversi menjadi sinyal elektrik dan ditampilkan sebagai grafik di layar komputer, berupa plot antara kekuatan bekuan (clot strength) terhadap waktu. Proses ini berlangsung secara real-time, artinya perubahan kondisi pasien langsung terpantau saat itu juga.[2]
Dari grafik TEG, beberapa parameter kunci dapat dibaca sekaligus, antara lain: reaction time (R time), kinetic time (K time), alpha angle (α), maximum amplitude (MA), serta lysis at 30 minutes (Ly30). Masing-masing parameter mencerminkan fase berbeda dalam proses koagulasi, sehingga memberikan peta klinis yang lengkap dalam satu pemeriksaan.[2]
![Parameter utama yang dihasilkan TEG.[2]](https://medquest.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Parameter-utama-yang-dihasilkan-TEG.jpg)
Parameter utama yang dihasilkan TEG.[2]
Baca juga:
Tromboelastografi: Solusi Praktis dan Efektif Pemeriksaan Fungsi Hemostasis
Tromboelastografi (TEG): Peran Penting dalam Manajemen Koagulasi dan Transfusi di Dunia Medis
Peran Vital TEG dalam Menyelamatkan Ibu di Ruang Bersalin
Dalam penanganan Perdarahan Postpartum (PPH), dua hal harus berjalan bersamaan: identifikasi perdarahan masif dan penilaian status koagulasi pasien — keduanya harus dilakukan secepat mungkin. Keterlambatan dalam mendeteksi gangguan pembekuan darah dapat memperburuk kondisi ibu secara signifikan dan mempersempit ruang intervensi medis.[3]
Metode pemeriksaan koagulasi konvensional yang selama ini banyak digunakan memiliki satu kelemahan utama: membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan data. Di sinilah metode koagulasi viskoelastik seperti TEG unggul — alat ini mampu menghasilkan profil koagulasi secara cepat, sehingga penatalaksanaan pasien dengan perdarahan aktif dapat dimulai lebih awal.[3]
TEG mengevaluasi seluruh spektrum proses koagulasi darah — dari pembentukan bekuan, propagasi, stabilisasi, hingga pemecahannya kembali (fibrinolisis). Kemampuan komprehensif ini menjadikan TEG sebagai panduan klinis yang andal dalam tata laksana koagulopati, dan perannya telah terkonfirmasi dalam berbagai setting klinis seperti trauma, bedah jantung, dan transplantasi hati.[3]
Dalam konteks PPH secara spesifik, penggunaan TEG terus berkembang dan menarik perhatian luas di komunitas medis. Pasien yang menjalani pemeriksaan point-of-care viscoelastic testing seperti TEG terbukti membutuhkan lebih sedikit transfusi trombosit, fresh frozen plasma (FFP), dan sel darah merah. Selain itu, angka perawatan di Unit Perawatan Intensif (ICU) pascaoperasi serta tindakan cesarean hysterectomy juga tercatat lebih rendah pada kelompok pasien tersebut.[2]
Studi kohort retrospektif turut mendukung bahwa TEG memungkinkan deteksi dini hipofibrinogenemia (kadar fibrinogen darah yang terlalu rendah) dan trombositopenia (jumlah trombosit di bawah normal) — dua kondisi yang kerap menjadi pemicu koagulopati berat pada PPH. TEG juga terbukti berkorelasi signifikan dengan pemeriksaan koagulasi standar, sekaligus memberikan informasi tambahan berupa aktivasi fibrinolisis yang tidak dapat terdeteksi melalui pemeriksaan konvensional saja.[2]
Secara keseluruhan, TEG dinilai sebagai metode point-of-care yang valid dan efektif untuk evaluasi PPH. Penggunaannya membantu tim medis mengambil keputusan lebih cepat dan tepat, meminimalkan risiko transfusi berlebihan, sekaligus menurunkan kemungkinan komplikasi dalam penatalaksanaan primary postpartum hemorrhage.[4, 5]
![Tabel perbandingan Tromboelastografi (TEG) versus tes koagulasi standar dalam penanganan pasien dengan perdarahan pascapersalinan.[5]](https://medquest.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Tabel-perbandingan-TEG.jpg)
Tabel perbandingan Tromboelastografi (TEG) versus tes koagulasi standar dalam penanganan pasien dengan perdarahan pascapersalinan.[5]
Baca juga:
Kalender Hari-Hari Bidang Kesehatan 2026
Mengenal Tes Cepat Molekuler (TCM) Pada Pemeriksaan TBC
Pemeriksaan Darah Lengkap (CBC) 3 diff & 5 diff: Apa Bedanya?
Hormon Tiroid dan Perannya Bagi Tubuh
Validasi Proses Produksi di Industri Pangan dan Farmasi
FAQ: Thromboelastography (TEG) dan Perannya dalam Penanganan Perdarahan Postpartum
1. Apa itu Perdarahan Postpartum dan Seberapa Serius Kondisi Ini?
Postpartum hemorrhage (PPH) atau perdarahan postpartum adalah kehilangan darah dalam jumlah besar setelah persalinan — dan termasuk komplikasi obstetri paling berbahaya karena kondisinya bisa memburuk hanya dalam hitungan menit.
Secara global, PPH terjadi pada 1%–3% dari seluruh persalinan dan berkontribusi pada sekitar 8% kematian ibu di negara berkembang. PPH primer muncul sejak plasenta lahir hingga 24 jam pertama pascapersalinan, sedangkan PPH sekunder dapat terjadi hingga 12 minggu setelah melahirkan — sehingga pemantauan ibu tidak berhenti di ruang bersalin saja.
2. Apa Saja Penyebab Perdarahan Postpartum?
Klinisi memetakan penyebab PPH dalam kerangka “4T”: Tone, Trauma, Tissue, dan Thrombin.
Tone adalah penyebab paling umum — otot rahim gagal berkontraksi setelah plasenta lahir (uterine atony). Trauma mencakup robekan jalan lahir atau dinding rahim. Tissue berkaitan dengan sisa plasenta atau jaringan yang tertinggal di dalam rahim. Thrombin mengacu pada gangguan sistem pembekuan darah yang membuat darah sulit membeku secara normal. Keempat faktor ini bisa muncul bersamaan dan seluruhnya menuntut respons medis segera.
3. Apa itu Thromboelastography (TEG) dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Thromboelastography (TEG) adalah pemeriksaan laboratorium yang menilai proses pembekuan darah secara menyeluruh — dari pembentukan bekuan, kekuatannya, hingga proses pelarutannya kembali (lisis) — menggunakan sampel darah utuh (whole blood).
Sampel darah ditempatkan dalam cup kecil yang berputar dengan pin tersuspensi di dalamnya. Saat darah membeku, perubahan viskositas menggerakkan pin dan dikonversi menjadi grafik real-time di layar komputer. Dari grafik ini, dokter membaca beberapa parameter sekaligus — R time, K time, alpha angle, maximum amplitude, dan Ly30 — yang masing-masing mencerminkan fase berbeda dalam koagulasi, sehingga satu pemeriksaan menghasilkan peta klinis yang lengkap.
4. Apa Keunggulan TEG Dibandingkan Pemeriksaan Koagulasi Konvensional?
Kelemahan utama pemeriksaan koagulasi konvensional dalam situasi darurat adalah waktu tunggu yang lebih lama. Dalam penanganan PPH, keterlambatan data berarti keterlambatan tindakan.
TEG menghasilkan profil koagulasi secara jauh lebih cepat, sehingga penatalaksanaan pasien dengan perdarahan aktif dapat dimulai lebih awal. TEG juga mampu mendeteksi aktivasi fibrinolisis — informasi yang sama sekali tidak bisa diperoleh dari pemeriksaan konvensional — menjadikannya alat evaluasi yang lebih komprehensif di situasi kritis.
5. Apa Manfaat Klinis Nyata Penggunaan TEG Pada Pasien PPH?
Pasien PPH yang diperiksa dengan TEG terbukti membutuhkan lebih sedikit transfusi trombosit, fresh frozen plasma (FFP), dan sel darah merah. Angka perawatan di Unit Perawatan Intensif (ICU) dan tindakan cesarean hysterectomy juga tercatat lebih rendah.
TEG juga memungkinkan deteksi dini hipofibrinogenemia (kadar fibrinogen terlalu rendah) dan trombositopenia (jumlah trombosit di bawah normal) — dua pemicu utama koagulopati berat pada PPH. Dengan informasi ini, tim medis dapat mengambil keputusan lebih cepat, meminimalkan transfusi yang tidak perlu, dan menurunkan risiko komplikasi secara keseluruhan.
PT Medquest Jaya Global
Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:
Referensi Artikel:
- Wormer KC, Jamil RT, Bryant SB. Postpartum Hemorrhage. [Updated 2024 Jul 19]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499988/
- Whitton T, Healy W. (2023). Review of Thromboelastography (TEG): Medical and Surgical Applications. Therapeutic Advances in Pulmonary and Critical Care Medicine. https://doi.org/10.1177/29768675231208426
- Kim SM, et al. (2024). Thromboelastography as an early prediction method for hypofibrinogenemia in emergency department patients with primary postpartum hemorrhage. Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency Medicine, 32(1), 85.
- Khanna P, et al. (2023). The role of point of care thromboelastography (TEG) and thromboelastometry (ROTEM) in management of Primary postpartum haemorrhage: A meta-analysis and systematic review. Saudi Journal of Anaesthesia, 17(1), 23. https://doi.org/10.4103/sja.sja_529_22
- Perelman A, et al. (2021). Thromboelastography (TEG) versus standard coagulation assays in the management of patients with postpartum hemorrhage. American Journal of Obstetrics & Gynecology, 224(2), S138.