Home 9 Blog 9 Superbugs: Alasan WHO Membuat Daftar Patogen Bakteri Prioritas

Superbugs: Alasan WHO Membuat Daftar Patogen Bakteri Prioritas

Jul 28, 2025 • 7 minutes read

Superbugs: Alasan WHO Membuat Daftar Patogen Bakteri Prioritas

Saat Anda berobat ke dokter untuk infeksi ringan, Anda mungkin tak terlalu memikirkan resep antibiotik. Teguk beberapa pil, sembuh, dan lanjut bekerja. Namun bagaimana jika pil tersebut tidak lagi bekerja secara efektif? Hal tersebut sudah terjadi sekarang.

Di seluruh dunia, bakteri semakin cerdas, menangkis obat terbaik kita, menciptakan apa yang para ahli sebut “superbugs.” Superbugs adalah jenis mikroba atau bakteri yang resisten atau kebal terhadap obat-obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasinya. Resistensi ini membuat pengobatan infeksi yang disebabkan oleh superbugs menjadi sangat sulit dan menimbulkan tantangan besar dalam dunia medis.[1]

Superbugs dapat menyebabkan infeksi yang sulit disembuhkan, meningkatkan risiko komplikasi serius, dan memperpanjang masa perawatan pasien di rumah sakit. Infeksi yang disebabkan oleh superbugs juga dapat meningkatkan biaya perawatan kesehatan dan angka kematian, khususnya pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.[1]

Dengan terus bertambahnya jenis bakteri resisten, diperlukan kerja sama global antara ahli mikrobiologi, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk menentukan prioritas “bakteri mana yang harus ditangani terlebih dahulu?”

Kabar baiknya? World Health Organization (WHO) sudah menyiapkan yang dikenal sebagai “WHO Bacterial Priority Pathogens List (WHO BPPL)” atau sebagai Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO, yang digunakan sebagai panduan untuk penelitian dan pengembangan antibiotik baru. Daftar ini menjadi panduan strategis dalam penelitian, pengembangan antibiotik baru, dan memetakan bakteri berdasarkan tingkat ancaman dan urgensi untuk ditangani.[2, 3]

 

 

Memahami Resistensi Antimikroba

Resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) terjadi ketika bakteri berevolusi agar bertahan dari obat yang sebelumnya mematikan mereka. Setiap kali mereka terpapar antibiotik, bakteri yang terkuat bertahan dan mewariskan ketahanannya.[1]

Hal ini menciptakan siklus berbahaya. Semakin sering kita menggunakan antibiotik, semakin banyak peluang bagi bakteri mengembangkan resistensi. Akhirnya, infeksi biasa yang dulu mudah diobati menjadi semakin sulit sehingga mengancam jiwa.[2, 3, 4]

 

Baca juga: Antimicrobial Resistance: Ancam 24 Juta Orang Miskin Ekstrem!  – Cek Artikelnya Di Sini

 

Apa itu Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO ?

WHO merilis daftar patogen baru sebagai alat penting dalam memerangi resistensi antimikroba

WHO merilis daftar patogen baru sebagai alat penting dalam memerangi resistensi antimikroba. Sumber: WHO.

Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO adalah daftar bakteri resisten antibiotik yang diprioritaskan oleh WHO untuk menginformasikan jenis bakteri yang perlu diwaspadai. Daftar ini juga digunakan untuk mengidentifikasi bakteri yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia karena resistensi antibiotiknya dan tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.[4]

Dibuat pertama kali pada 2017 dan diperbarui pada 2024, daftar ini mengurutkan bakteri resisten antibiotik ke dalam tiga kategori: Kritis, Tinggi, dan Sedang. Daftar ini mengarahkan fokus penelitian, anggaran pemerintah, dan prioritas pengembangan obat baru. Selain itu, daftar ini juga merupakan peta jalan global untuk memerangi resistensi antimikroba.[4]

 

Daftar Patogen Bakteri Prioritas  WHO 2024: Ada Apa Saja?

Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO 2024

Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO 2024. Sumber: WHO.

Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO terbaru mencakup beberapa bakteri familiar dan beberapa pendatang baru yang mengkhawatirkan yang terbagi ke dalam 3 kategori, yaitu prioritas kritis, prioritas tinggi dan prioritas sedang:[4]

1. Prioritas Kritis (Paling Berbahaya)

  • Acinetobacter baumannii (resisten karbapenem)
Acinetobacter baumannii

Ilustrasi acinetobacter baumannii. Sumber: CDC.

 

  • Enterobacterales (resisten karbapenem atau sefalosporin generasi ketiga)
Ilustrasi Carbapenem-Resistant Enterobacterales (CRE). Sumber: DHS.

Ilustrasi Carbapenem-Resistant Enterobacterales (CRE). Sumber: DHS.

 

  • Mycobacterium tuberculosis (resisten rifampisin) – Tambahan baru
Ilustrasi mycobacterium tuberculosis. Sumber: CDC.

Ilustrasi mycobacterium tuberculosis. Sumber: CDC.

 

2. Prioritas Tinggi

  • Salmonella Typhi (resisten fluorokuinolon)
Ilustrasi salmonella typhi. Sumber: CDC.

Ilustrasi salmonella typhi. Sumber: CDC.

 

  • Salmonella non-tifi (resisten fluorokuinolon)
  • Shigella spp. (resisten fluorokuinolon)
Ilustrasi shigella spp. Sumber: CDC.

Ilustrasi shigella spp. Sumber: CDC.

 

  • Neisseria gonorrhoeae (resisten sefalosporin gen 3/fluorokuinolon)
Ilustrasi neisseria gonorrhoeae. Sumber: CDC.

Ilustrasi neisseria gonorrhoeae. Sumber: CDC.

 

  • Staphylococcus aureus (MRSA)
Ilustrasi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Sumber: DHS.

Ilustrasi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Sumber: DHS.

 

  • Enterococcus faecium (resisten vankomisin)
Ilustrasi enterococcus faecium. Sumber: hartmann-science-center.com.

Ilustrasi enterococcus faecium. Sumber: hartmann-science-center.com.

 

  • Pseudomonas aeruginosa (resisten karbapenem)
Ilustrasi pseudomonas aeruginosa. Sumber: CDC.

Ilustrasi pseudomonas aeruginosa. Sumber: CDC.

 

3. Prioritas Sedang

  • Streptococcus Grup A dan B (berbagai resistensi)
Ilustrasi Streptococcus Grup A dan B. Sumber: CDC.

Ilustrasi Streptococcus Grup A dan B. Sumber: CDC.

 

  • Streptococcus pneumoniae (resisten makrolida)
Ilustrasi streptococcus pneumoniae. Sumber: CDC.

Ilustrasi streptococcus pneumoniae. Sumber: CDC.

 

  • Haemophilus influenzae (resisten ampisilin)
Ilustrasi haemophilus influenzae. Sumber: CDC.

Ilustrasi haemophilus influenzae. Sumber: CDC.

 

Mengapa Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO Penting untuk Kesehatan Masyarakat?

1. Mengarahkan Dana Riset

Sejak 2017, daftar ini membantu mengarahkan miliaran dolar untuk penelitian. Tiga belas antibiotik baru yang menargetkan patogen prioritas ini sudah beredar, dengan banyak lainnya dalam uji klinis. Tanpa fokus ini, peneliti bisa membuang waktu pada masalah kurang mendesak.[5]

2. Meningkatkan Keamanan Rumah Sakit

Rumah sakit di seluruh dunia menggunakan daftar ini untuk memperkuat langkah pencegahan infeksi. Mereka tahu bakteri mana yang harus diwaspadai dan dapat menerapkan strategi pencegahan terarah, melindungi pasien paling rentan.[2]

3. Penggunaan Antibiotik yang Lebih Cermat

Daftar ini membantu dokter memilih antibiotik dengan lebih tepat. Dengan mengetahui bakteri resisten mana yang umum di wilayah mereka, dokter dapat meresepkan obat yang lebih strategis, memastikan efektivitas antibiotik tetap terjaga.[2, 3]

4. Pengawasan Skala Global

Hingga saat ini, daftar patogen bakteri prioritas WHO telah digunakan untuk pengawasan di berbagai negara yang berpartisipasi dalam Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) (termasuk Indonesia) dan juga pengembangan panduan pencegahan resistensi antimikroba. Selain itu, daftar patogen bakteri prioritas tersebut juga sudah diimplementasikan di 21 negara di Eropa untuk keperluan pengawasan, seperti MRSA dan Enterobacterales resisten karbapenem.[6, 7, 8]

 

Langkah Pencegahan Penyebaran AMR

Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan guna mencegah terjadinya penyebaran resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR):[9]

1. Gunakan Antibiotik secara Bertanggung Jawab

    • Hanya minum antibiotik sesuai resep profesional kesehatan.
    • Selesaikan seluruh dosis, meski sudah merasa membaik.
    • Jangan membagi atau menyimpan sisa obat.

2. Praktik Kebersihan yang Baik

    • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin.
    • Pastikan vaksinasi Anda selalu terkini.
    • Terapkan penanganan makanan yang aman.

3. Tetap Perbaharui Informasi mengenai AMR

    • Pahami bahwa tidak setiap infeksi memerlukan antibiotik.
    • Tanyakan alternatif kepada dokter bila sesuai.

 

Baca juga:

Tes Cepat Molekuler (TCM) Deteksi MRSA  – Cek Artikelnya Di Sini

Tes Cepat Molekuler (TCM) Deteksi Antimicrobial Resistance (AMR) – Cek Artikelnya Di Sini

Skrining Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit: Dampak Ekonomi dan Tantangan Penerapannya – Cek Artikelnya Di Sini

 

Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO:  Optimalkan Respons Global, Cegah Resistensi Memburuk

Pembaruan Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO 2024 menegaskan dua hal sekaligus: tantangan besar yang kita hadapi dan kemajuan nyata dalam penanggulangan resistensi antibiotik. Meningkatnya jumlah bakteri kebal obat—seperti Acinetobacter baumannii resisten karbapenem dan Enterobacterales resisten karbapenem maupun sefalosporin generasi ketiga—menunjukkan skala penyebaran infeksi sulit diobati yang terus berkembang.[1, 2, 3, 4, 5]

Di sisi lain, revisi Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO 2024 adalah langkah maju: WHO kini telah menyusun klasifikasi patogen paling berbahaya secara sistematis. Hasilnya, peneliti, pembuat kebijakan, dan tenaga kesehatan memiliki pijakan yang jelas untuk merancang strategi pencegahan dan pengendalian resistensi antibiotik.[1, 2, 3, 4, 5]

Penetapan tuberkulosis resisten obat ke dalam Daftar Patogen Bakteri Prioritas WHO 2024 juga mencerminkan pengakuan global terhadap urgensi penanganannya. Tuberkulosis jenis ini menuntut perawatan lebih rumit, biaya yang lebih tinggi, dan tingkat keberhasilan terapi yang lebih rendah dibandingkan tuberkulosis biasa—sehingga diperlukan perhatian dan penanganan khusus dari semua pihak.[1, 2, 3, 4, 5]

Oleh karena itu, pemerintah, lembaga kesehatan, dan komunitas ilmiah harus mengalokasikan sumber daya—baik dana riset, fasilitas diagnostik lebih canggih, pengembangan obat baru, maupun program edukasi dan pelatihan tenaga medis—secara terfokus pada bakteri resisten antibiotik prioritas ini. Dengan dukungan yang terarah, tenaga kesehatan di lapangan dapat menerapkan protokol terapi yang tepat, menggunakan antibiotik secara bijak, dan mendeteksi resistensi sedini mungkin untuk menghambat penyebaran infeksi.[1, 2, 3, 4, 5]

Ketika anggaran dan perhatian difokuskan pada upaya ini, tenaga medis akan mendapatkan akses ke informasi terkini, obat-obatan efektif, dan alat diagnostik memadai. Kombinasi tersebut memungkinkan penanganan infeksi yang lebih akurat dan mencegah penggunaan antibiotik berlebihan atau tidak tepat—sehingga daya kerja antibiotik tetap terjaga untuk pasien-pasien yang benar-benar memerlukannya. Dengan demikian, strategi terpadu ini diharapkan mempertahankan efektivitas terapi antibiotik sebagai benteng utama melawan infeksi di masa depan.[1, 2, 3, 4, 5]

 

PT Medquest Jaya Global

Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:

Pelajari Selengkapnya

 

 

Referensi Artikel:

1. National Institutes of Health. (2014, February). Stop the spread of superbugs. NIH News in Health. https://newsinhealth.nih.gov/2014/02/stop-spread-superbugs

2. World Health Organization. (2017, February 27). WHO publishes list of bacteria for which new antibiotics are urgently needed. https://www.who.int/news/item/27-02-2017-who-publishes-list-of-bacteria-for-which-new-antibiotics-are-urgently-needed

3. World Health Organization. (2024, May 17). WHO updates list of drug-resistant bacteria most threatening to human health. https://www.who.int/news/item/17-05-2024-who-updates-list-of-drug-resistant-bacteria-most-threatening-to-human-health

4. World Health Organization. (2024). WHO bacterial priority pathogens list, 2024: Bacterial pathogens of public health importance to guide research, development and strategies to prevent and control antimicrobial resistance (ISBN 978-92-4-009346-1). https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/376776/9789240093461-eng.pdf

5. Sati H, Carrara E, Savoldi A, Hansen P, Garlasco J, Campagnaro E, Boccia S, Castillo-Polo JA, Magrini E, Garcia-Vello P, Wool E, Gigante V, Duffy E, Cassini A, Huttner B, Pardo PR, Naghavi M, Mirzayev F, Zignol M, Cameron A, Tacconelli E; WHO Bacterial Priority Pathogens List Advisory Group. The WHO Bacterial Priority Pathogens List 2024: a prioritisation study to guide research, development, and public health strategies against antimicrobial resistance. Lancet Infect Dis. 2025 Apr 11:S1473-3099(25)00118-5. doi: 10.1016/S1473-3099(25)00118-5. Epub ahead of print. PMID: 40245910.

6. World Health Organization. (2022). Global antimicrobial resistance and use surveillance system (GLASS) report: 2022. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240062702

7. World Health Organization. (2017). Guidelines for the prevention and control of carbapenem-resistant Enterobacteriaceae, Acinetobacter baumannii and Pseudomonas aeruginosa in health care facilities. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550178

8. Babu Rajendran N, Mutters NT, Marasca G, Conti M, Sifakis F, Vuong C, Voss A, Baño JR, Tacconelli E; COMBACTE-MAGNET-EPI-Net Consortium. Mandatory surveillance and outbreaks reporting of the WHO priority pathogens for research & discovery of new antibiotics in European countries. Clin Microbiol Infect. 2020 Jul;26(7):943.e1-943.e6. doi: 10.1016/j.cmi.2019.11.020. Epub 2019 Dec 5. PMID: 31812771.

9. Centers for Disease Control and Prevention. (n.d.). Preventing antimicrobial resistance. https://www.cdc.gov/antimicrobial-resistance/prevention/index.html#cdc_prevention_exposure-protecting-yourself-your-family-and-others

Share

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.