Home 9 Blog 9 Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular: Dari Skrining Faktor Risiko hingga Pemeriksaan Biomarker

Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular: Dari Skrining Faktor Risiko hingga Pemeriksaan Biomarker

May 6, 2026 • 9 minutes read

Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular: Dari Skrining Faktor Risiko hingga Pemeriksaan Biomarker

Sebagian besar penyakit sebenarnya masih bisa ditangani dengan baik — bahkan disembuhkan sepenuhnya — jika ditemukan sebelum kondisinya memburuk. Masalahnya, banyak gangguan kesehatan yang tidak menampakkan tanda apa pun di tahap awal, sehingga kerap tidak disadari hingga terlambat.

Setiap orang memiliki profil kesehatan yang unik, termasuk faktor risiko yang berbeda-beda. Itulah mengapa pemeriksaan kesehatan sedini mungkin menjadi langkah yang relevan untuk semua kalangan, bukan hanya mereka yang sudah merasakan keluhan.

Pemeriksaan rutin memberikan gambaran nyata tentang kondisi tubuh secara menyeluruh — dari fungsi organ hingga potensi risiko yang tersembunyi. Dengan informasi ini, setiap individu dapat mengambil keputusan kesehatan yang lebih tepat dan terarah.

Artikel ini membahas lebih dalam tentang pentingnya pemeriksaan dini sebagai investasi kesehatan jangka panjang yang paling strategis.

 

 

Penyakit Kronis Tanpa Gejala: Ancaman Tersembunyi yang Kerap Terabaikan

Faktor risiko penyakit kronis tidak menular

Faktor risiko penyakit kronis tidak menular.[1]

Penyakit Tidak Menular (PTM), yang kerap disebut penyakit kronis, adalah kelompok kondisi kesehatan yang terbentuk secara perlahan dalam rentang waktu panjang. Perkembangannya dipicu oleh kombinasi faktor genetik, kondisi fisiologis, gaya hidup, hingga lingkungan sekitar. Empat jenis PTM yang paling banyak ditemui adalah penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes.[2]

Skala dampaknya pun tidak kecil. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat bahwa hampir tiga perempat dari total 32 juta kematian akibat PTM setiap tahunnya terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah — sebuah angka yang mencerminkan besarnya ketimpangan beban kesehatan global.[2]

Yang membuat PTM semakin berbahaya adalah caranya berkembang tanpa memberikan sinyal peringatan. Berbeda dengan penyakit akut yang datang tiba-tiba dengan gejala yang langsung terasa, penyakit kronis bisa berjalan senyap selama bertahun-tahun tanpa keluhan berarti. Kondisi ini baru kerap terdeteksi ketika sudah berada di stadium lanjut — saat penanganan menjadi jauh lebih kompleks dan terbatas.[3]

Itulah mengapa memahami PTM sejak dini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Semakin cepat risiko dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang tidak perlu terjadi.[3]

 

Mengapa Deteksi Dini Itu Penting?

Penyakit kronis kini menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di abad ke-21. Dampaknya merentang jauh — mulai dari kualitas hidup individu, tekanan pada sistem pelayanan kesehatan, hingga guncangan pada stabilitas ekonomi suatu negara. Yang membuatnya berbahaya: kondisi ini berkembang perlahan dan senyap, sehingga kerap tidak disadari hingga sudah memasuki fase yang sulit ditangani.[3]

Menghadapi ancaman yang kompleks ini, dibutuhkan respons yang terkoordinasi dari berbagai lapisan. Adopsi gaya hidup sehat, penguatan sistem deteksi dini, dan komitmen terhadap riset serta inovasi medis menjadi tiga pilar utama dalam menekan beban penyakit kronis. Tujuannya melampaui kepentingan saat ini — ini adalah investasi nyata untuk kesehatan generasi yang akan datang.[3]

Di sinilah skrining dan deteksi dini memegang peran yang tidak tergantikan. Sebagian besar penyakit kronis tidak menampilkan gejala apapun di fase awalnya, sehingga pendekatan proaktif menjadi satu-satunya cara untuk mengungkap kondisi tersembunyi tersebut. Skrining memungkinkan identifikasi tanda-tanda penyakit atau faktor risiko sejak dini — baik pada individu yang tampak sehat maupun pada mereka yang tergolong berisiko tinggi — sehingga intervensi dapat segera dilakukan sebelum kondisi memburuk.[4]

Bukti klinis sudah berbicara: program skrining yang dirancang secara tepat terbukti mampu menyelamatkan nyawa. Caranya sederhana namun berdampak besar — mendeteksi penyakit pada tahap yang masih responsif terhadap pengobatan, sekaligus mengidentifikasi faktor risiko yang masih sepenuhnya bisa dikendalikan.[4]

 

Skrining Faktor Risiko: Kunci Deteksi Dini Penyakit Kronis

Deteksi dini penyakit kronis dimulai dari langkah yang tampak sederhana — pemeriksaan faktor risiko secara berkala. Pengukuran tekanan darah, kadar kolesterol, dan glukosa darah yang rutin dilakukan di layanan kesehatan primer mampu mengungkap kondisi seperti hipertensi, hiperlipidemia (kadar lemak darah tinggi), dan prediabetes jauh sebelum gejala muncul. Semakin awal kondisi ini teridentifikasi, semakin cepat pula intervensi — termasuk terapi antihipertensi dan penurun lipid — dapat dijalankan untuk mencegah komplikasi serius seperti serangan jantung dan stroke.[4]

Tantangan terbesar justru datang dari penyakit yang “diam” dalam waktu lama. Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 dan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah dua contoh kondisi yang kerap tidak menunjukkan gejala hingga kerusakan organ sudah terjadi. Fakta mengejutkan: hampir separuh orang dewasa dengan diabetes tidak mengetahui bahwa mereka mengidapnya. Tanpa skrining rutin, diagnosis baru muncul setelah komplikasi — seperti gangguan penglihatan permanen atau penyakit jantung — sudah lebih dulu datang.[4]

Di sinilah skrining komunitas dan pemeriksaan kesehatan rutin menjadi sangat krusial: keduanya berfungsi menutup celah diagnosis yang selama ini terlewat. Penyakit Ginjal Kronis, misalnya, dapat dideteksi lebih awal melalui pemeriksaan sederhana seperti protein urin atau penilaian laju filtrasi glomerulus (eGFR) — terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti penderita diabetes dan hipertensi. Identifikasi lebih awal membuka peluang intervensi yang dapat memperlambat progresi penyakit secara signifikan, sekaligus mencegah komplikasi yang jauh lebih berat dan mahal untuk ditangani.[4]

 

Biomarker dan Kimia Klinik: Kunci Membaca Kondisi Tubuh Secara Akurat

Biomarker utama beberapa kondisi penyakit

Biomarker utama beberapa kondisi penyakit.[4]

Setiap penyakit kronis meninggalkan jejak biologis yang dapat diukur secara ilmiah — dan di sinilah peran biomarker menjadi sangat krusial. Biomarker adalah penanda biologis spesifik yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium, mencakup fungsi deteksi dini, penegakan diagnosis, hingga pemantauan perkembangan penyakit dari waktu ke waktu:[4]

1. Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular mencakup serangkaian kondisi yang berdampak pada jantung dan sistem pembuluh darah, termasuk hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke. Untuk mendeteksi dan memantau kondisi ini, tenaga medis mengandalkan tiga parameter utama: profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida), troponin (T atau I) sebagai penanda kerusakan otot jantung, serta C-reactive protein sensitif tinggi (high-sensitivity C-reactive protein/hs-CRP) yang mengindikasikan peradangan sistemik.[4]

2. Diabetes Melitus

Diabetes Melitus adalah gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah akibat terganggunya fungsi atau produksi hormon insulin. Dalam praktik klinis, pemantauan kondisi ini dilakukan melalui pemeriksaan Hemoglobin A1c (HbA1c) yang mencerminkan rata-rata kadar gula darah selama 2–3 bulan terakhir, dilengkapi dengan glukosa darah puasa (GDP) dan glukosa darah sewaktu (GDS) untuk evaluasi kadar gula pada momen pemeriksaan tertentu.[4]

3. Kanker

Kanker terjadi ketika sel-sel tubuh mengalami pertumbuhan yang tidak terkendali dan menyerang jaringan di sekitarnya. Kemajuan signifikan dalam deteksi dini kanker kini didukung oleh penggunaan penanda tumor (tumor markers) yang bersifat spesifik, di antaranya: CEA (Carcinoembryonic Antigen) untuk kanker saluran pencernaan, PSA (Prostate Specific Antigen) untuk kanker prostat, serta AFP (Alpha-Fetoprotein) yang berkaitan dengan kanker hati dan beberapa jenis tumor lainnya.[4]

4. Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) adalah kondisi di mana fungsi ginjal menurun secara bertahap dan progresif, yang bila tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada gagal ginjal permanen. Parameter laboratorium yang digunakan untuk menilai kondisi ini meliputi laju filtrasi glomerulus (estimated Glomerular Filtration Rate/eGFR) sebagai indikator utama kapasitas filtrasi ginjal, kreatinin serum dan ureum untuk menilai akumulasi produk sisa metabolisme, serta albuminuria melalui pemeriksaan rasio albumin-kreatinin urin (urine Albumin-to-Creatinine Ratio/ACR).[4]

 

Peran Kimia Klinik dalam Diagnosis dan Pemantauan Penyakit Kronis

Biomarker yang beredar dalam darah dapat digunakan untuk diagnosis, pemantauan, dan terapi penyakit

Biomarker yang beredar dalam darah dapat digunakan untuk diagnosis, pemantauan, dan terapi penyakit.[5]

Dalam dunia klinis, satu biomarker saja jarang cukup untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi seorang pasien. Setiap parameter laboratorium bekerja secara sinergis — saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain — sehingga akurasi diagnosis meningkat dan perkembangan penyakit dapat dipantau dengan lebih cermat.[5]

Pengujian biomarker-biomarker ini bertumpu pada satu disiplin ilmu yang dikenal sebagai clinical chemistry atau kimia klinik, yang dalam konteks yang lebih luas juga disebut biokimia medis. Bidang ini mengkaji komposisi kimiawi tubuh manusia beserta reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi di dalamnya.[5]

Secara praktis, kimia klinik bertugas mengukur berbagai zat atau analit dalam cairan tubuh — mulai dari darah hingga urine — untuk keperluan diagnosis, pemantauan, hingga pengelolaan penyakit jangka panjang seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular. Semakin berkembangnya ragam dan ketersediaan pemeriksaan laboratorium turut memperkuat kemampuan tenaga klinis dalam memecahkan permasalahan kesehatan secara lebih tepat sasaran.[5]

Dua area unggulan kimia klinik adalah diagnosis dan pemantauan diabetes, serta pengelolaan kadar lipid dan lipoprotein dalam tubuh. Studi klinis membuktikan bahwa kontrol lipid yang baik berkontribusi nyata dalam menekan risiko penyakit kardiovaskular di tingkat populasi.[5]

 

Baca juga:

Kalender Hari-Hari Bidang Kesehatan 2026

Mengenal Tes Cepat Molekuler (TCM) Pada Pemeriksaan TBC

Pemeriksaan Darah Lengkap (CBC) 3 diff & 5 diff: Apa Bedanya?

Hormon Tiroid dan Perannya Bagi Tubuh

Validasi Proses Produksi di Industri Pangan dan Farmasi

 

FAQ: Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular

1. Apa itu Penyakit Tidak Menular dan Mengapa Harus Dideteksi Sejak Dini?

Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah kondisi kesehatan kronis yang tidak ditularkan antarindividu, melainkan berkembang perlahan akibat kombinasi faktor genetik, gaya hidup, fisiologis, dan lingkungan. Empat jenis utamanya: penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes.

PTM wajib dideteksi sedini mungkin karena tidak menunjukkan gejala apa pun di fase awal — bisa berjalan senyap bertahun-tahun sebelum komplikasi serius terjadi. Semakin awal risiko teridentifikasi, semakin besar peluang penanganan yang efektif.

2. Apakah PTM Hanya Menyerang Orang yang Sudah Sakit atau Lanjut Usia?

Tidak. PTM bisa berkembang pada siapa saja, termasuk individu yang tampak sehat, karena kondisi seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, atau kadar gula abnormal bisa hadir tanpa keluhan apa pun.

Pemeriksaan kesehatan dini relevan untuk semua usia — bukan hanya mereka yang sudah merasakan gangguan. Setiap orang memiliki profil risiko yang berbeda, dan hanya pemeriksaan yang dapat mengungkapnya secara akurat.

3. Seberapa Besar Dampak PTM Secara Global dan Di Indonesia?

PTM menyebabkan lebih dari 41 juta kematian per tahun — sekitar 74% dari total kematian di seluruh dunia. Hampir tiga perempatnya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.

Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 17 juta kematian terjadi sebelum usia 70 tahun, dan lebih dari 86% berasal dari negara berkembang. Indonesia menghadapi lonjakan kasus PTM yang dipercepat oleh urbanisasi dan perubahan gaya hidup.

4. Apa yang Dimaksud Dengan Skrining Faktor Risiko PTM?

Skrining faktor risiko adalah pemeriksaan berkala untuk mengidentifikasi potensi masalah sebelum gejala muncul, mencakup pengukuran tekanan darah, kadar kolesterol, dan glukosa darah di layanan kesehatan primer.

Melalui skrining ini, kondisi seperti hipertensi, hiperlipidemia (kadar lemak darah tinggi), dan prediabetes dapat dideteksi jauh lebih awal — sehingga intervensi medis maupun perubahan gaya hidup bisa segera dilakukan sebelum komplikasi berkembang.

5. Mengapa Diabetes dan Penyakit Ginjal Kronis Sering Baru Diketahui Saat Sudah Parah?

Keduanya tergolong kondisi yang “diam” dalam waktu lama — hampir tidak menunjukkan gejala hingga kerusakan organ sudah terjadi. Fakta penting: hampir separuh penderita diabetes tidak menyadari kondisinya.

Tanpa skrining rutin, diagnosis baru muncul setelah komplikasi lebih dulu hadir. Pemeriksaan sederhana seperti tes protein urin atau eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate) sudah cukup untuk mendeteksi Penyakit Ginjal Kronis (PGK) lebih awal, terutama pada penderita diabetes dan hipertensi.

6. Apa itu Biomarker dan Apa Perannya Dalam Deteksi Dini PTM?

Biomarker adalah penanda biologis spesifik yang dapat diukur melalui pemeriksaan laboratorium. Setiap penyakit kronis meninggalkan jejak biologis dalam tubuh — biomarker adalah cara untuk membacanya secara ilmiah, mulai dari deteksi dini, penegakan diagnosis, hingga pemantauan perkembangan penyakit.

Dalam praktik klinis, setiap parameter laboratorium bekerja saling melengkapi — kombinasi inilah yang menghasilkan gambaran kondisi pasien yang lebih menyeluruh dan akurat.

7. Biomarker Apa yang Digunakan Untuk Mendeteksi Penyakit Kardiovaskular dan Diabetes?

Untuk penyakit kardiovaskular, pemeriksaan utama meliputi profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida), troponin T/I sebagai penanda kerusakan otot jantung, dan hs-CRP (high-sensitivity C-reactive protein) sebagai indikator peradangan sistemik.

Untuk diabetes, pemeriksaan HbA1c (Hemoglobin A1c) mencerminkan rata-rata kadar gula darah selama 2–3 bulan terakhir, dilengkapi GDP (glukosa darah puasa) dan GDS (glukosa darah sewaktu) untuk evaluasi yang lebih komprehensif.

8. Bagaimana Penyakit Ginjal Kronis dan Kanker Dideteksi Melalui Laboratorium?

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dinilai melalui tiga parameter: eGFR untuk kapasitas filtrasi ginjal, kreatinin serum dan ureum untuk menilai sisa metabolisme, serta ACR (urine Albumin-to-Creatinine Ratio) untuk mendeteksi kebocoran protein.

Untuk kanker, deteksi didukung penanda tumor spesifik: CEA (Carcinoembryonic Antigen) untuk kanker saluran pencernaan, PSA (Prostate Specific Antigen) untuk kanker prostat, dan AFP (Alpha-Fetoprotein) untuk kanker hati dan beberapa jenis tumor lainnya.

9. Apa itu Kimia Klinik dan Mengapa Penting Dalam Pemantauan PTM?

Kimia klinik — atau biokimia medis — adalah bidang ilmu yang mengukur berbagai zat dalam cairan tubuh seperti darah dan urine untuk keperluan diagnosis, pemantauan, dan pengelolaan penyakit jangka panjang.

Dua area kerjanya yang paling relevan untuk PTM adalah pemantauan diabetes dan pengelolaan kadar lipid. Studi klinis membuktikan bahwa kontrol lipid yang baik berkontribusi nyata dalam menekan risiko penyakit kardiovaskular.

10. Seberapa Sering Seseorang Perlu Melakukan Skrining PTM?

Frekuensi skrining bergantung pada profil risiko individu. Mereka dengan faktor risiko tinggi — seperti riwayat keluarga dengan diabetes, penyakit jantung, atau hipertensi — memerlukan pemeriksaan lebih sering.

Secara umum, pemeriksaan tekanan darah, glukosa darah, dan profil lipid direkomendasikan minimal setahun sekali untuk orang dewasa, bahkan sebelum keluhan muncul. Skrining rutin bukan tanda kepanikan — melainkan keputusan strategis untuk menjaga kesehatan tetap terpantau sejak dini.

 

PT Medquest Jaya Global

Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:

Pelajari Selengkapnya

 

 

Referensi artikel:

  1. Al-Hadlaq, S. M., Balto, H. A., Hassan, W. M., Marraiki, N. A., & El-Ansary, A. K. (2022). Biomarkers of non-communicable chronic disease: An update on contemporary methods. PeerJ, 10, e12977. https://doi.org/10.7717/peerj.12977
  2. World Health Organization. (2025). Noncommunicable diseases. World Health Organization. Retrieved April 20, 2026, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases
  3. Cheney, M. K. (2023). Unmasking the silent struggles: Understanding chronic diseases in the 21st century. Open Access Journals. Retrieved April 20, 2026, from https://www.openaccessjournals.com/articles/unmasking-the-silent-struggles-understanding-chronic-diseases-in-the-21st-century-17063.html
  4. Sun, P., Wan, Z., & Liu, Y. (2025). Towards comprehensive chronic disease control: Prevention, early detection, and integrated management. Medicine Bulletin, 2(1), 20–33. https://doi.org/10.1002/mdb2.70020
  5. Ahmad, A., Imran, M., & Ahsan, H. (2023). Biomarkers as Biomedical Bioindicators: Approaches and Techniques for the Detection, Analysis, and Validation of Novel Biomarkers of Diseases. Pharmaceutics15(6), 1630. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics15061630
Share

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.