Home 9 Blog 9 Solusi Leukoreduksi Pada Kantong Darah: LCG2B-LCG4B

Solusi Leukoreduksi Pada Kantong Darah: LCG2B-LCG4B

Nov 29, 2023 • 7 minutes read

Solusi Leukoreduksi Pada Kantong Darah: LCG2B-LCG4B

Pada sebuah publikasi, dikatakan bahwa dampak negatif transfusi dapat berupa reaksi transfusi (akut atau lambat) dan penularan penyakit infeksius. Berdasarkan dampaknya bagi tubuh, reaksi transfusi dibagi menjadi reaksi transfusi imun dan non imun. Reaksi transfusi imun kemudian dibagi lagi menjadi reaksi cepat dan lambat. Kondisi ini menyesuaikan dengan respons sistem imun masing-masing tubuh ketika menerima transfusi.[1]

Sementara itu, adanya kelebihan volume darah yang ditransfusikan, kelebihan zat besi, kontaminasi bakteri, dan hal eksternal lainnya menjadi beberapa penyebab reaksi transfusi non imun. Sebagian besar (1-3%) reaksi transfusi ini dapat berupa demam non hemolitik yang disebabkan oleh adanya allogenic leucocyte (leukosit yang berasal dari luar tubuh) pada kantong darah yang ditransfusikan.[2]

Lantas mengapa hal demikian dapat terjadi? Sementara yang kita tahu sel darah putih (leukosit) ini adalah sistem imun pertahanan bagi tubuh kita. Mari kita simak penjelasan lebih lanjut berikut ini agar dapat mengenali leukosit sebagai teman ataupun lawan bagi tubuh ketika menerima transfusi.

 

 

Mengenal Leukosit

Tipe-Tipe Leukosit

Tipe-Tipe Leukosit.

Komponen darah dalam tubuh manusia terdiri atas 55% plasma dan 45% sel darah merah. Plasma memiliki komponen yang tersusun atas sel darah putih (leukosit) dan trombosit. Diberi julukan sel darah putih dikarenakan leukosit ini hanya mengandung sedikit dari hemoglobin (Hb) pada komponennya sehingga warnanya cenderung lebih pucat tanpa kemerahan yang jelas.[3]

Leukosit maupun trombosit diketahui berfungsi sebagai respon alami tubuh ketika terdapat benda asing/antigen yang berasal dari luar tubuh. Trombosit berfungsi sebagai komponen yang akan membantu dalam proses pembekuan darah apabila terjadi pendarahan yang disebabkan luka dari luar tubuh, sementara itu leukosit secara umum berfungsi sebagai sel darah yang dapat melawan berbagai jenis mikroorganisme yang mengancam tubuh (bakteri, virus, atau patogen).[3]

Leukosit diproduksi oleh sel induk di sumsum tulang. Masing-masing sel leukosit ini akan keluar dari tempat produksinya apabila ditemukan respon tubuh terhadap antigen asing yang masuk ke dalam tubuh. Oleh karena itu, leukosit memiliki peran yang sangat penting bagi sistem kekebalan tubuh.[3]

 

Baca Juga: Leukosit dalam transfusi darah: kawan atau lawan?

 

Lantas bagaimanakah cara leukosit membedakan antara sel dalam tubuh dengan sel yang berasal dari luar tubuh (asing)? Prinsip yang digunakan adalah berdasarkan protein Human Leucocyte Antigen (HLA) yang terdapat pada permukaan membran sel dari masing-masing sel tersebut dan memiliki struktur yang unik pada setiap individu.[4]

Apabila dilakukan transfusi darah pada seorang pasien, maka leukosit yang berasal dari luar tubuh (alogenik) akan masuk dan dikenali sebagai sel asing oleh sistem kekebalan tubuh. Akibat dari pengenalan sel asing ini, maka terdapat kemungkinan bahwa tubuh pasien akan memunculkan respon negatif terhadap proses transfusi yang dilakukan dan tentunya ini akan membahayakan bagi tubuh pasien itu sendiri.[4]

Kira-kira apa yang dilakukan leukosit ketika tidak ada serangan sel dari luar? Apakah akan memakan sel mereka sendiri?

Selama dilakukan penyimpanan kantong darah donor PRC pada kulkas, leukosit akan semakin rusak seiring berjalannya waktu. Namun, Ketika proses penyimpanan tersebut dilakukan, tingkat sitokin proinflamasi akan meningkat produksinya karena adanya sintesis aktif dari sel tersebut.[4]

Menurut Jun-Ming Zhang, Sitokin adalah jenis protein yang disekresikan oleh sel leukosit yang memiliki fungsi spesifik untuk menstimulus interaksi/reaksi antar sel. Dalam hal sistem imun, ketika sel leukosit hancur maka sitokin akan dikeluarkan dari sel dan apabila jumlahnya berlebihan akan memicu adanya respon imun yang juga berlebihan.[5]

Selain mengeluarkan sitokin, leukosit juga dapat mengeluarkan virus/mikroorganisme lain yang telah difagosit di dalam selnya dan tentunya ini akan memicu adanya infeksi menular secara tidak langsung. Contoh infeksi yang dapat ditularkan yaitu CMV. Virus ini ditemukan pada bagian polymorphonuclear leucocyte dari pasien yang terinfeksi aktif.[6, 7]

Apabila kita telah melihat penjelasan diatas, ternyata keberadaan leukosit yang berlebihan pada proses transfusi dapat menyebabkan hal negatif bagi tubuh resipien dan akan memicu beberapa reaksi transfusi.

 

Reaksi Transfusi

Terdapat berbagai macam reaksi yang dapat ditimbulkan ketika dilakukan transfusi itu sendiri, namun sebanyak 6,8% kejadian dilaporkan jenis yang paling sering ditemukan berupa Febrile non haemolytic transfusion reaction (FNHTR) atau yang dikenal dengan reaksi demam non hemolitik.[8]

Leukosit diketahui sebagai penyebab penting dari munculnya reaksi transfusi ini. Salah satu jenis sel leukosit, yaitu antibodi T sitotoksik, berfungsi dalam menghancurkan sel yang terindikasi terinfeksi dengan virus.[9]

Ketika terjadi interaksi spesifik antara antibodi sitotoksik resipien dengan Human Leucocyte Antigen (HLA) dari donor, maka akan menghasilkan suatu kompleks antigen-antibodi. Kompleks ini pada dasarnya terbentuk karena HLA dari donor dikenal sebagai suatu sel asing yang ada dari luar tubuh.[9]

Oleh karena itu perlu dilakukannya upaya untuk meminimalisir dampak reaksi transfusi ini, karena darah yang ditransfusikan tersebut pasti mengandung komponen leukosit di dalamnya.

 

Pencegahan Reaksi Transfusi

Jenis komponen darah yang ditransfusikan dapat berbagai macam, sehingga pengolahannya pun akan perlu berbagai metode untuk mencegah kemungkinan terjadinya reaksi transfusi. Ketika diperlukan transfusi darah merah, maka produk jenis Packed Red Cell (PRC) akan dibuat dengan cara melakukan sentrifugasi (dengan kecepatan tertentu) pada kantong darah utuh untuk memisahkan plasma yang ada.[4]

Meskipun pada proses ini plasma akan terpisahkan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada beberapa komponen plasma yang mengandung leukosit di dalamnya. Berdasarkan permenkes No. 91 Tahun 2015 Setelah dilakukan sentrifugasi, darah perlu dilakukan uji golongan darah, uji saring infeksi menular, dan skrining antibody.[10]

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91 TAHUN 2015.

Ketiga pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa darah yang ditransfusikan aman dan terdapat kecocokan antara donor dengan pasien. Selain perlu melakukan ketiga uji tersebut, penting juga dilakukan reduksi pada leukosit untuk meminimalisir adanya reaksi transfusi bagi sistem imun pasien.

 

Baca Juga: Pra Transfusi Darah: Pentingnya Pemeriksaan Imunohematologi

 

Leukoreduksi

Pada pembahasan sebelumnya disebutkan bahwa terdapat kemungkinan akan terjadi reaksi transfusi apabila sel leukosit pasien bertemu dengan HLA yang dibawa dari darah donor. Pertemuan ini akan membentuk suatu kompleks antigen-antibodi yang dapat memicu adanya reaksi transfusi Febrile Non Haemolytic Transfusion Reaction (FNHTR).[11]

Reaksi ini dihasilkan dari adanya reaksi berlebihan sistem imun selama paparan antigen HLA tadi. Untuk meminimalisir kemungkinan reaksi transfusi yang tidak diinginkan ini, maka kita dapat melakukan pengurangan jumlah leukosit pada kantong darah yang akan ditransfusikan.[11]

Leukoreduksi adalah suatu pengurangan kadar leukosit dalam kantong darah transfusi dengan tujuan untuk meminimalisir kemungkinan reaksi yang tidak diharapkan terjadi.[12] Leukosit dapat dipisahkan berdasarkan ukuran sel, sifat dielektrik, dan afinitasnya.[13] Secara metode, proses leukoreduksi ini dapat dilakukan dengan sentrifugasi, penyaringan menggunakan leukofilter, dan alat aferesis.

Dari beberapa metode yang ada, leukofilter saat ini menjadi yang paling banyak dilakukan karena relatif lebih praktis, efisien, ekonomis dan memiliki efektifitas hingga 90%. Berikut ini adalah standar yang digunakan apabila dilakukan leukoreduksi pada kantong PRC:[11]

   Standar   Konsentrat Sel Darah Merah
   American Association of Blood Banks (USA)   <5×106 sel leukosit/unit
   European Council Criteria   <1×106 sel leukosit/unit

Artinya pada setiap kantong darah PRC, harus memiliki kadar leukosit dalam standar yang ditentukan tersebut ketika akan ditransfusikan kepada pasien. Filtrasi leukosit dapat dilakukan mulai dari 24 jam setelah pengambilan.[11]

Secara prosedural, terdapat dua pilihan untuk melakukan leukoreduksi, yaitu pada pre-storage (sebelum penyimpanan) dan post-storage/bedside (setelah penyimpanan). Keuntungan dari filter pre-storage adalah dapat mengurangi akumulasi metabolit yang timbul (termasuk sitokin inflamasi) yang ada di dalam sel leukosit ketika akan mengalami degradasi.[14]

Sementara itu, apabila filter dilakukan post-storage/bedside, maka metabolit (termasuk sitokin inflamasi) akan keluar dari leukosit dan dikhawatirkan akan memicu adanya reaksi transfusi (Wahidiyat, 2016).[14] Oleh karena itu, filter ini direkomendasikan pada sebelum penyimpanan.

 

Manfaat Leukoreduksi

Beberapa manfaat dari leukoreduksi pada kantong darah PRC, yaitu:[11]

  1. Mengurangi frekuensi terjadinya FNHTR (reaksi transfusi demam non hemolitik).
  2. Mengurangi transmisi CMV/bakteri.
  3. Mengurangi alloimunisasi oleh HLA.
  4. Mengurangi kemungkinan reaksi disfungsi organ dan kematian ketika transfusi.

 

Bagaimana Melakukan Leukoreduksi

Proses yang dilakukan pada leukoreduksi cukup mudah. Prinsip utama yang digunakan adalah berupa filtrasi pada komponen PRC. PRC akan dilakukan filter berdasarkan gaya adhesi antara muatan negatif pada leukosit dengan material filter sesuai dengan gaya van der waals. Kemudian proses filtrasi akan dipengaruhi juga oleh ukuran pori pada material filter, semakin besar maka akan semakin cepat aliran yang ada.[7]

Pada bagian bawah filter akan langsung tersambung dengan kantong transfer untuk menampung PRC yang sudah minim leukosit.

 

LCG2b/LCG4b Sebagai Solusi Leukoreduksi

Saat ini tentunya sangat penting dalam mendapatkan suatu produk yang dapat melakukan leukoreduksi sesuai standar untuk memastikan darah yang ditransfusikan sudah aman bebas dari risiko reaksi transfusi. Macopharma, brand yang terkenal dalam bidang blood bank menghadirkan solusi untuk leukoreduksi yang praktis, efisien, dan tentunya sesuai standar. Produk LCG2b (pre-storage) dan LCG4b (post-storage) dapat digunakan dalam prosedur leukoreduksi.

LCG2b_LCG4b Macopharma

LCG2b_LCG4b Macopharma.

Saat ini produk LCG2b dan LCG4b memiliki 3 jenis filter khusus dalam sistem leukoreduksinya, yaitu prefilter 1, prefilter 2, dan main filter. Penggunaan 3 jenis filter khusus ini memungkinkan adanya leukoreduksi yang efisien dan spesifik. Namun, jumlah volume recovery yang dihasilkan masih cukup tinggi hingga >90% dengan volume loss berkisar antara ±20 mL per kantongnya.

Berdasarkan pengujian hasil yang dilakukan, filter LCG2b dan LCG4b ini sudah sesuai dengan standar leukoreduksi AABB dan European Council sehingga aman digunakan untuk leukoreduksi kantong darah pasien multitransfusi. Produk Macopharma ini sudah kompatibel dengan berbagai macam kantong darah dan dapat digunakan dengan sistem tertutup namun pemantauan tetap dapat dilakukan karena keseluruhan sistem filter berwarna transparan.

 

Bagi Anda penyedia fasilitas layanan kesehatan bank darah, seperti Rumah Sakit dan lembaga resmi negara yang mengatur perihal kebutuhan darah nasional, seperti Palang Merah Indonesia, silakan hubungi kami dengan mengunjungi halaman berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya mengenai filter LCG2b dan LCG4b dari Macopharma:

 

 

 

Referensi Artikel

  1. Armstrong, B. (2008). Benefits and risks of transfusion. https://doi.org/10.1111/j.1751-2824.2008.00199.x.
  2. Maramica, I. (2019). Febrile Nonhemolytic Transfusion Reactions. Transfusion Medicine and Hemostasis, 385–388. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-813726-0.00061-1.
  3. Blood Basic. (2021). American Society of Hematology. https://www.hematology.org/education/patients/blood-basics [diakses pada 01 November 2023]
  4. Kamilah, D dan D. Widyaningrum. (2019). Hubungan jenis packed red cell (PRC) yang ditransfusikan dengan reaksi transfusi febrile non haemolytic transfusion reaction (FNHTR). Intisari Sains Medis 10(1): 227-231.
  5. Jun-Ming Zhang dan Jianxiong An. 2007. Cytokines, Inflammation and Pain. Int Anesthesiol Clin 45(2): 27-37.
  6. Heddle, N. M., Blajchman, M. A., Meyer, R. M., Lipton, J. H., Walker, I. R., Sher, G. D., … Levine, M. N. (2002). A randomized controlled trial comparing the frequency of acute reactions to plasma-removed platelets and prestorage WBC-reduced platelets. Transfusion, 42(5), 556–566. doi:10.1046/j.1537-2995.2002.00094.x
  7. Dzik, W. H., & Szczepiorkowski, Z. M. (2007). Leukocyte-Reduced Products. Blood Banking and Transfusion Medicine, 359–382. doi:10.1016/b978-0-443-06981-9.50031-4
  8. 2014. Efektifitas Penurunan Jumlah Leukosit dan Sitokin pada Produk Packed Red Cell Metoda Buffy Coat Depleted dan Modified Prestorage Bed Side Leucocyte Filtration. Thesis Fakultas Kedokteran Kekhususan Sains Transfusi: 1-74.
  9. Chu, RW. 1999. Leukocytes in blood transfusion: adverse effects and their prevention. HKMJ 5(3): 1-5.
  10. Permenkes No. 91 Tahun 2015.
  11. Sharma, R.R., dan N. Marwaha. 2010. Leukoreduced blood components: Advantages and strategies for its implementation in developing countries. Asian J Transfus Sci; 4(1): 3–8.
  12. Ferdowsi, S., Z. Abbasi-Malati, dan A.A. Pourfathollah. 2020. Leukocyte Reduction Filters to the an Alternative Source of Peripheral Blood Leukocytes for Research. Hematol transfusion cell ther;43(4):494–498.
  13. Zimring, J.C., dan T. Nester. 2013. Leukoreduction of Blood Products dalam Transfusion Medicine and Hemostasis (2nd Edition). Clinical and Laboratory Aspects, 275-278.
  14. Wahidiyat, P.A. dan N.A. Adnani. 2016. Transfusi Rasional pada Anak. Sari Pediatri 18(4): 325-331.
Share

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.