Home 9 Blog 9 Diabetes Dapat Meningkatkan Risiko Demensia: Penjelasan Ilmiah yang Perlu Diketahui

Diabetes Dapat Meningkatkan Risiko Demensia: Penjelasan Ilmiah yang Perlu Diketahui

Oct 22, 2025 • 7 minutes read

Diabetes Dapat Meningkatkan Risiko Demensia: Penjelasan Ilmiah yang Perlu Diketahui

 

 

Mengenal Lebih Dekat Diabetes Melitus (DM)

Diabetes melitus (DM) atau biasa disebut diabetes adalah gangguan metabolik yang terjadi ketika tubuh tidak mampu mengatur kadar gula darah dengan baik. Kondisi ini membuat kadar glukosa dalam darah meningkat melebihi batas normal. Secara umum, diabetes terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2, yang berbeda dalam penyebab, gejala, dan cara penanganannya, tetapi keduanya sama-sama menimbulkan hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi.[1]

1. Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 biasanya mulai muncul sejak usia anak-anak hingga remaja. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh menyerang dan merusak sel beta pankreas—sel yang berfungsi memproduksi insulin. Akibatnya, tubuh kehilangan kemampuan untuk menghasilkan insulin, hormon yang berperan penting dalam mengatur kadar gula darah.[1]

2. Diabetes Tipe 2

Berbeda dengan tipe 1, diabetes tipe 2 berkembang secara perlahan dan sering terjadi pada orang dewasa, terutama usia paruh baya hingga lanjut usia. Pemicunya beragam, namun faktor gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan tinggi gula dan kurang aktivitas fisik, memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko penyakit ini.[1]

Pada diabetes tipe 2, tubuh sebenarnya masih memproduksi insulin, tetapi tidak dapat menggunakannya secara efektif karena terjadi resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan kadar glukosa darah tetap tinggi meskipun kadar insulin cukup. Obesitas, penuaan, dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi ini.[1]

 

Baca juga:

Diabetes: Endemi Baru Indonesia

Glycated Serum Protein: Marker Pemantau Kadar Gula Pasien DM

Peranan Pemeriksaan Darah Lengkap: Kunci Deteksi Dini Sindrom Metabolik

 

Demensia dan Penyakit Alzheimer

1. Apa itu Demensia?

Demensia adalah kondisi penurunan kemampuan berpikir dan mengingat yang cukup berat hingga mengganggu aktivitas harian seseorang. Gangguan ini memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, memahami informasi, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.[2]

2. Jenis Demensia yang Paling Umum

Bentuk demensia yang paling sering dijumpai adalah penyakit Alzheimer, yang mencakup sekitar dua pertiga dari seluruh kasus pada individu berusia di atas 65 tahun. Penyakit ini menjadi penyebab utama gangguan fungsi otak degeneratif pada kelompok usia lanjut.[2]

3. Lonjakan Kasus Demensia di Dunia

Jumlah penderita demensia di dunia terus meningkat pesat. Pada tahun 1990 tercatat sekitar 20 juta kasus, dan angka tersebut melonjak menjadi lebih dari 43 juta pada tahun 2016 — meningkat lebih dari dua kali lipat dalam waktu kurang dari tiga dekade. Antara 1990 hingga 2019, insiden dan prevalensi penyakit Alzheimer serta jenis demensia lainnya meningkat tajam lebih dari 140%. Diperkirakan, jumlah penderita dapat mencapai 150 juta orang pada tahun 2050, menjadikannya tantangan besar bagi sistem kesehatan global.[2]

4. Proses Terjadinya Alzheimer

Penyakit Alzheimer berkembang secara perlahan dan progresif. Gangguan ini menyebabkan penurunan fungsi otak yang berhubungan dengan daya ingat, kemampuan berbicara, konsentrasi, serta kemampuan berpikir logis dan mengambil keputusan. Seiring waktu, penderita mengalami kesulitan dalam mengelola aktivitas sederhana sehari-hari.[2]

5. Perubahan di Otak Penderita Alzheimer

 

Ilustrasi Bagian Korteks Entorhinal

Ilustrasi Bagian Korteks Entorhinal. Sumber: Radiopaedia.

 

Secara biologis, Alzheimer ditandai oleh kematian sel-sel saraf (neuron) di otak yang menyebabkan kerusakan jaringan secara bertahap. Proses ini biasanya berawal di korteks entorhinal, area pada hipokampus yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori. Seiring berkembangnya kerusakan, kemampuan berpikir dan fungsi kognitif penderita menurun semakin parah.[2]

6. Faktor Risiko Utama

Alzheimer termasuk penyakit multifaktorial, artinya muncul akibat kombinasi berbagai faktor yang saling memengaruhi. Dari semua faktor tersebut, usia merupakan yang paling dominan. Risiko seseorang mengalami Alzheimer meningkat dua kali lipat setiap lima tahun setelah mencapai usia 65 tahun.[2]

 

Baca juga:

Penyakit Alzheimer: Gejala, Penyebab dan Diagnosisnya

Demensia dan Alzheimer Berbeda atau Sama?

Alzheimer: Penyakit Tua & Tak Dapat Dicegah, Benarkah?

 

Bagaimana Diabetes Dapat Meningkatkan Risiko Demensia?

Penyakit diabetes melitus tipe 2 yang berlangsung lama diketahui dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya demensia. Kondisi ini terjadi karena berbagai faktor yang saling berkaitan antara metabolisme tubuh, fungsi jantung, dan kerja otak.[3, 4]

Salah satu penyebab utamanya adalah gangguan pada sistem kardiovaskular. Ketika kesehatan jantung menurun, aliran darah menuju otak menjadi tidak optimal. Kekurangan suplai darah ini dapat menimbulkan kerusakan sel-sel otak dan mengganggu fungsi kognitif. Penyakit seperti hipertensi dan gangguan jantung juga meningkatkan risiko stroke, yang kemudian bisa memicu munculnya gejala demensia.[3, 4]

Menariknya, peningkatan risiko demensia tetap ditemukan pada penderita diabetes meskipun faktor stroke telah dikendalikan. Hal ini menunjukkan adanya mekanisme biologis lain yang memengaruhi otak secara langsung akibat diabetes jangka panjang.[3, 4]

Salah satu faktor lain yang berperan adalah hipoglikemia, yaitu kondisi di mana kadar gula darah menurun drastis. Pengaturan gula darah yang terlalu ketat memang dapat menurunkan risiko komplikasi jantung dan pembuluh darah, tetapi bila berlebihan justru berbahaya. Gula darah yang terlalu rendah dapat merusak hipokampus — bagian otak yang berfungsi penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori — sehingga meningkatkan risiko gangguan daya ingat dan demensia.[4]

 

Dasar Perubahan Fisiologis dan Patologis pada Penyakit Alzheimer dan Diabetes

Dasar Perubahan Fisiologis dan Patologis pada Penyakit Alzheimer dan Diabetes.[5]

 

Beberapa penelitian juga mengemukakan bahwa diabetes memiliki kaitan langsung dengan penyakit Alzheimer. Karena kesamaan mekanisme seluler dan molekuler yang terjadi, sebagian ahli bahkan menyebut Alzheimer sebagai “diabetes tipe 3”. Julukan ini menggambarkan adanya hubungan erat antara gangguan metabolisme glukosa dan proses degeneratif di otak.[4, 5]

Insulin ternyata berperan penting dalam proses terbentuknya plak amiloid dan fosforilasi protein tau, dua ciri khas utama yang ditemukan pada otak penderita Alzheimer. Ketika tubuh mengalami resistensi insulin, terjadilah gangguan regulasi gula darah yang memicu diabetes tipe 2. Namun bila resistensi tersebut juga terjadi di otak, maka dapat mendorong pembentukan plak dan jalinan serabut saraf abnormal yang mempercepat kerusakan sel saraf dan memicu penyakit Alzheimer.[4, 5]

 

Efek Jangka Panjang Menderita Diabetes: Meningkatnya Risiko Demensia

Selama rentang waktu antara tahun 1985 hingga 2019, penelitian mencatat lebih dari 1.700 kasus diabetes dan sekitar 600 kasus demensia. Berdasarkan pemantauan tahunan terhadap setiap 1.000 orang berusia 70 tahun, ditemukan bahwa tingkat kejadian demensia pada individu tanpa riwayat diabetes mencapai sekitar 8,9 kasus per tahun.[6]

Pada kelompok dengan diabetes, angka tersebut meningkat secara signifikan. Penderita yang baru mengalami diabetes kurang dari lima tahun tercatat memiliki sekitar 10 kasus demensia per 1.000 orang. Angka ini bertambah menjadi 13 kasus pada mereka yang hidup dengan diabetes selama enam hingga sepuluh tahun, dan meningkat tajam menjadi 18,3 kasus pada penderita yang telah mengidap diabetes lebih dari satu dekade.[6]

Temuan ini menegaskan bahwa durasi seseorang hidup dengan diabetes memiliki pengaruh besar terhadap risiko demensia di usia lanjut. Semakin lama diabetes diderita, semakin tinggi pula peluang terjadinya gangguan fungsi otak dan penurunan kemampuan kognitif seiring bertambahnya usia.[6]

 

Alzheimer = “Diabetes Tipe 3”?

Penelitian terkini mengungkap bahwa otak penderita Alzheimer mengalami gangguan metabolik yang menyerupai diabetes. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kadar insulin atau terjadinya resistensi insulin di dalam jaringan otak. Akibatnya, sel saraf kesulitan menyerap glukosa, sumber utama energi bagi otak, sehingga fungsi kognitif perlahan menurun.[7]

Fenomena tersebut membuat para peneliti menyebut Alzheimer sebagai “diabetes tipe 3”, karena keduanya menunjukkan pola serupa: terganggunya metabolisme glukosa dan terbentuknya penumpukan protein abnormal, seperti plak amiloid, yang merusak jaringan otak secara bertahap.[7]

Walau demikian, diabetes masih dikategorikan sebagai faktor risiko, bukan penyebab langsung Alzheimer. Artinya, tidak semua pengidap diabetes akan mengalami demensia, namun risiko mereka untuk mengalaminya memang lebih tinggi dibandingkan individu yang tidak menderita diabetes.[7]

 

Alat Kesehatan Deteksi Alzheimer:

INNOTEST β-AMYLOID(1-40) – Klik Di Sini Untuk Pelajari Selengkapnya

INNOTEST β-AMYLOID(1-42) – Klik Di Sini Untuk Pelajari Selengkapnya

INNOTEST hTAU Ag – Klik Di Sini Untuk Pelajari Selengkapnya

INNOTEST PHOSPHO-TAU(181P) – Klik Di Sini Untuk Pelajari Selengkapnya

 

Cara Mengurangi Risiko Diabetes dan Demensia

Menarik untuk diketahui, sejumlah faktor yang dapat membantu mencegah demensia ternyata juga berperan penting dalam menurunkan risiko diabetes. Kedua kondisi ini memiliki kaitan erat dengan gaya hidup sehari-hari.[4, 8]

Langkah sederhana seperti rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan seimbang, serta memperhatikan kesehatan mental dan hubungan sosial dapat memberikan perlindungan ganda bagi tubuh dan otak. Dengan membiasakan kebiasaan sehat sejak dini, potensi munculnya kedua penyakit ini dapat ditekan secara signifikan.[4, 8]

 

Ilustrasi Pola Hidup Sehat

Ilustrasi Pola Hidup Sehat.

 

Penelitian medis menunjukkan bahwa menerapkan pola hidup sehat sejak usia paruh baya (sekitar 40–65 tahun) dapat menurunkan kemungkinan terjadinya demensia dan diabetes di masa lanjut usia. Kebiasaan sehari-hari yang konsisten berperan besar dalam menjaga fungsi otak dan metabolisme tubuh tetap optimal.[4, 8]

1. Tetap Aktif Secara Fisik

Aktivitas fisik rutin menjadi fondasi penting bagi kesehatan otak, jantung, dan berat badan. Kombinasi latihan aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang dengan latihan kekuatan otot membantu meningkatkan sirkulasi darah dan menjaga daya tahan tubuh. Rutinitas ini terbukti efektif mengurangi risiko penurunan kognitif dan gangguan metabolik seperti diabetes.

2. Batasi Konsumsi Alkohol

Minuman beralkohol yang dikonsumsi berlebihan dapat merusak sel-sel otak dan mengganggu fungsi organ penting seperti hati dan pankreas. Mengontrol asupan alkohol menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan kadar gula darah serta melindungi jaringan otak dari kerusakan jangka panjang.

3. Berhenti Merokok

Zat kimia dalam rokok mempercepat kerusakan pembuluh darah dan menghambat aliran oksigen ke otak. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan demensia. Menghentikan kebiasaan merokok, bahkan setelah bertahun-tahun, tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan otak dan sistem kardiovaskular.

4. Jaga Kesehatan Mental dan Sosial

Kesehatan emosional dan hubungan sosial yang baik terbukti mendukung daya ingat dan kestabilan suasana hati. Depresi, kecemasan, atau kesepian dapat mempercepat penurunan fungsi otak. Jika muncul tanda-tanda tersebut, penting untuk mencari bantuan profesional dan tetap aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

5. Lindungi Indra dan Kepala

Masalah penglihatan atau pendengaran yang tidak ditangani dapat mempercepat penurunan kemampuan berpikir. Penggunaan kacamata atau alat bantu dengar sesuai anjuran dokter membantu menjaga fungsi kognitif. Selain itu, cedera kepala berat dapat memicu terbentuknya plak Alzheimer, sehingga penggunaan pelindung kepala saat bersepeda, bekerja di area berisiko, atau berolahraga fisik sangat disarankan.

 

PT Medquest Jaya Global

Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:

Pelajari Selengkapnya

 

 

Referensi artikel:

  1. Sapra, A., & Bhandari, P. (2023, June 21). Diabetes. In StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan–. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551501/
  2. Kumar, A., Sidhu, J., Lui, F., & et al. (2024, February 12). Alzheimer disease. In StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan–. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499922/
  3. Rost, N. S., Brodtmann, A., Pase, M. P., van Veluw, S. J., Biffi, A., Duering, M., Hinman, J. D., & Dichgans, M. (2022). Post-stroke cognitive impairment and dementia. Circulation Research, 130(8), 1252–1271. https://doi.org/10.1161/CIRCRESAHA.121.319956
  4. Budson, A. E. (2021, July 12). What’s the relationship between diabetes and dementia? Harvard Health Blog. Retrieved October 13, 2025, from https://www.health.harvard.edu/blog/whats-the-relationship-between-diabetes-and-dementia-202107122546
  5. Peng, Y., Yao, S. Y., Chen, Q., Jin, H., Du, M. Q., Xue, Y. H., & Liu, S. (2024). True or false? Alzheimer’s disease is type 3 diabetes: Evidences from bench to bedside. Ageing Research Reviews, 99, https://doi.org/10.1016/j.arr.2024.102383
  6. Amidei, C. B., Fayosse, A., Dumurgier, J., Machado-Fragua, M. D., Tabak, A. G., van Sloten, T., Kivimäki, M., Dugravot, A., Sabia, S., & Singh-Manoux, A. (2021). Association between age at diabetes onset and subsequent risk of dementia. JAMA, 325(16), 1640–1649. https://doi.org/10.1001/jama.2021.4001
  7. Alzheimer Society of Canada. (n.d.). Diabetes and dementia. Retrieved October 13, 2025, from https://alzheimer.ca/en/about-dementia/how-can-i-prevent-dementia/diabetes
  8. Alzheimer’s Society. (n.d.). Reduce your risk of dementia. Retrieved October 13, 2025, from https://www.alzheimers.org.uk/about-dementia/managing-the-risk-of-dementia/reduce-your-risk-of-dementia
Share

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.