Home 9 Blog 9 Teknik Rhesus Typing dan Metode Modern: Meminimalkan Risiko Aloimunisasi pada Pasien

Teknik Rhesus Typing dan Metode Modern: Meminimalkan Risiko Aloimunisasi pada Pasien

Nov 25, 2025 • 7 minutes read

Teknik Rhesus Typing dan Metode Modern: Meminimalkan Risiko Aloimunisasi pada Pasien

 

 

Sistem Golongan Darah Rhesus dan Sejarahnya

Sistem golongan darah Rhesus (Rh) adalah salah satu sistem penggolongan darah yang paling penting dalam praktik transfusi darah dan kebidanan. Penggolongan darah pada sistem Rhesus (Rh) dilakukan berdasarkan keberadaan antigen Rh. Antigen Rh adalah protein yang muncul di permukaan sel darah merah (eritrosit) dan memiliki potensi imunogenik yang tinggi—artinya, paparan terhadap antigen ini mudah memicu pembentukan antibodi.[1]

Beberapa variasi ekspresi antigen Rh menghasilkan fenotipe yang berbeda dengan arti klinis. Dari semua variasi itu, fenotipe Rh-negatif menjadi yang paling menonjol karena konsekuensi klinisnya yang signifikan, terutama pada saat kehamilan (misalnya risiko aloimunisasi ibu terhadap janin) dan pada transfusi darah yang tidak cocok.[1]

Aloimunisasi adalah kondisi yang terjadi ketika protein darah ibu hamil tidak kompatibel dengan protein darah janin, menyebabkan sistem kekebalan tubuh ibu (antibodi) bereaksi dan menghancurkan sel darah milik janin.[2]

Sejarah penemuan sistem golongan darah Rh bermula pada tahun 1939, ketika Levine dan Stetson melaporkan kasus seorang ibu yang menerima transfusi pascapersalinan dan mengalami reaksi hemolitik meskipun donor dan penerima kompatibel menurut sistem penggolongan darah ABO.[1]

Investigasi lebih lanjut menunjukkan adanya reaksi pada saat dilakukan uji silang dengan banyak donor lain, meskipun secara penggolongan darah ABO sudah kompatibel. Sehingga diperoleh hipotesis yang mengarah kepada ditemukannya antigen baru yang berasal dari janin dan menyebabkan aloimunisasi. Selanjutnya, Landsteiner dan Wiener mengidentifikasi antigen penyebab tersebut dan menamakannya faktor Rhesus.[1]

 

Pentingnya Menentukan Faktor Rhesus pada Donor dan Transfusi Darah

Faktor rhesus (Rh) adalah unsur krusial yang harus diperiksa pada setiap prosedur donor maupun transfusi. Seseorang yang memiliki Rh positif (Rh⁺) tidak akan membentuk antibodi terhadap antigen Rh sendiri (baik itu Rh positif maupun negatif). Sebaliknya, individu yang memiliki Rh negatif (Rh⁻) dapat membentuk antibodi saat terpapar antigen Rh positif (Rh⁺).[3]

Oleh sebab itu, penerimaan darah harus dilakukan dengan mengikuti prinsip berikut: penerima Rh⁺ dapat menerima darah dari donor Rh⁺ maupun Rh⁻, sedangkan penerima Rh⁻ hanya aman menerima darah dari donor Rh⁻ untuk menghindari reaksi imunologis.[3]

1. Ketidaksesuaian Rh dan Risiko pada Kehamilan: Hemolytic Disease of the Newborn

Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir — atau hemolytic disease of the newborn (HDN), juga dikenal sebagai erythroblastosis fetalis — adalah kondisi serius yang terjadi ketika antibodi dari ibu mengenali sel darah merah janin yang bertipe Rh positif sebagai benda asing dan melakukan penyerangan. Kondisi ini berpotensi mengancam nyawa janin atau bayi baru lahir.[1, 4]

Masalah ini biasanya muncul pada kehamilan kedua atau berikutnya. Jika janin mewarisi antigen D dari ayahnya yang diturunkan secara autosomal dominan (Rhesus positif), maka kontak antara darah ibu dan janin — yang dapat terjadi saat persalinan atau pada kejadian lain selama kehamilan — memicu tubuh ibu untuk mengenali antigen D (Rhesus positif) tersebut sebagai benda asing dan mulai membentuk antibodi anti-D. Proses pembentukan antibodi pada ibu ini disebut aloimunisasi.[1, 4]

 

Ilustrasi Ibu Hamil dengan Rhesus Negatif dan Janin dengan Rhesus Positif

Ilustrasi ibu hamil dengan rhesus negatif dan janin dengan rhesus positif. Sumber: ufhealth.org.

Pada awalnya, antibodi yang terbentuk dari aloimunisasi ini adalah golongan antibodi IgM yang tidak bisa menembus plasenta, sehingga janin biasanya aman pada kehamilan pertama. Namun, kemudian terjadi pergantian tipe antibodi (isotype switching) menjadi IgG yang mampu menembus plasenta. Bila pada kehamilan berikutnya janin kembali Rh-positif, antibodi IgG dari ibu dapat memasuki sirkulasi janin dan menyerang sel darah merah milik janin.[1, 4]

Adapun dampak dari bertemunya antibodi milik ibu dengan sel darah merah yang berkomplemen akan menyebabkan hemolisis (penghancuran sel darah merah) pada janin, sehingga hal tersebut dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti:[1, 4]

  • Ikterus (yellow jaundice)
  • Anemia perinatal
  • Kernikterus (kerusakan otak akibat bilirubin tinggi)
  • Hydrops fetalis (edema masif pada janin)

Apabila tidak dilakukan penanganan seperti transfusi intrauterin, maka risiko kematian janin dapat meningkat. Bayi yang selamat dari aloimunisasi ini pada umumnya tetap akan menghadapi risiko komplikasi jangka panjang—misalnya, gangguan perkembangan saraf, kehilangan pendengaran, dan hipotonia.[1, 4]

 

Fenotipe Rhesus:  Mengenal Profil Antigen Rhesus Darah

Data pengujian antigen rhesus dan interpretasi fenotipenya di Unit Donor Darah (UDD) di Kota Bandung

Data pengujian antigen rhesus dan interpretasi fenotipenya di Unit Donor Darah (UDD) di Kota Bandung.[5]

Sistem Rhesus (Rh) pada darah manusia terdiri atas puluhan antigen, namun secara klinis yang paling signifikan adalah antigen D, C, c, E, dan e. Antigen-antigen ini dikode oleh dua gen utama pada kromosom 1, yaitu RHD (penentu antigen D) dan RHCE (penentu C, c, E, e).[1]

Variasi pada gen RHD dan RHCE muncul karena mutasi atau perubahan dalam urutan sequence gen. Perubahan tersebut mengubah struktur antigen yang muncul di permukaan sel darah merah. Contohnya, perbedaan antara antigen E dan e sering kali disebabkan oleh satu perubahan pada salah satu titik sequence gen yang berakibat adanya perbedaan ekspresi gen yang mengode struktur protein pembentuk antigen di permukaan sel darah merah, sedangkan perbedaan antara antigen C dan c melibatkan sejumlah perubahan yang lebih kompleks (terjadi mutasi pada lebih dari satu titik).[1]

Mengapa profil antigen ini menjadi suatu hal yang penting? Karena perbedaan antigen tersebut dapat memicu respons imun saat terjadi transfusi. Pasien yang menerima transfusi berulang — misalnya penderita sickle cell disease — memiliki risiko lebih tinggi membentuk antibodi terhadap antigen Rh yang tidak dimilikinya. Pembentukan antibodi ketika terpapar antigen oleh tubuh (aloimunisasi) ini dapat menambah tahapan dalam pencarian darah yang kompatibel dan meningkatkan risiko reaksi transfusi.[1]

 

Baca juga:

Pra Transfusi Darah: Pentingnya Pemeriksaan Imunohematologi – Cek Artikelnya Di Sini

Pentingnya Ketahui Golongan Darah Agar Terhindar Komplikasi – Cek Artikelnya Di Sini

Skrining Antibodi: Langkah Awal Penting dalam Transfusi yang Aman – Cek Artikelnya Di Sini

 

Rhesus Typing dan Bagaimana Mendapatkan Profil yang Sesuai ketika Akan Dilakukan Transfusi

Rhesus typing adalah pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah sel darah merah (eritrosit) memiliki antigen D, C, c, E, dan e (rhesus) pada permukaannya. Prinsipnya mirip dengan uji golongan darah ABO yang dikenal sebagai forward typing: sel darah pasien dicampur dengan reagen antisera yang terdiri atas antibodi monoklonal (anti-D, anti-C, anti-c, anti-E, dan anti-e); bila terlihat aglutinasi (penggumpalan), hasilnya dinyatakan Rh positif—jika tidak ada penggumpalan, maka Rh negatif.[1]

Ada beberapa teknik untuk melakukan pengujian rhesus (Rh), dipilih berdasarkan teknologi dan kapasitas laboratorium. Metode yang umum dipakai meliputi:[1]

1. Metode Object Glass

Pemeriksaan cepat yang meneteskan sel darah dan reagen antisera di atas object glass, kemudian diamati secara langsung apakah terjadi penggumpalan atau tidak. Keunggulannya yaitu teknik yang digunakan sederhana dan cepat; kelemahannya yaitu sensitivitas lebih rendah dan hasil mudah dipengaruhi faktor teknis ataupun lingkungan sekitar (suhu, cara pencampuran, konsentrasi), sehingga sulit distandardisasi.

2. Metode Tabung

Teknik konvensional di mana sel darah dan reagen antisera dicampurkan ke dalam satu tabung, kemudian diinkubasi dan disentrifugasi untuk melihat kemunculan reaksi aglutinasi. Metode ini sering digunakan dalam situasi darurat atau saat pemeriksaan awal penentuan golongan darah karena prosedurnya relatif mudah dan dapat dilakukan dengan cepat.

3. Metode Gel (Gel Card)

Menggunakan kolom berisi gel Sephadex (gel dekstran-akrilamida). Sampel sel darah ditempatkan di dalam kolom gel, lalu dicampurkan dengan antibodi dalam bentuk antisera yang sudah tersedia di dalam gel card. Selanjutnya, gel card diinkubasi (apabila diperlukan) dan disentrifugasi—gel akan berfungsi menyaring dan menahan sel yang beraglutinasi karena kompleks antara ikatan antigen dan antibodi membentuk ukuran yang besar. Kelebihan dari metode ini adalah hasil yang lebih konsisten dan mudah dibaca. Metode ini memberikan sensitivitas dan standardisasi yang lebih baik.

4. Metode Mikroplate / Otomatis

Sistem yang lebih modern dan sudah terotomasi: reaksi antibodi–antigen berlangsung dalam mikroplate, kemudian dibaca oleh mesin otomatis setelah tahap inkubasi dan reaksi. Cocok untuk laboratorium dengan volume pemeriksaan besar karena efisien, terstandar, dan mengurangi intervensi operator.

 

Diagast DuoLys & QWALYS® 3 EVO: Kombinasi Sempurna untuk Rhesus Typing (Fenotyping)

Diagast DuoLys adalah kit reagen yang merupakan kit reagen yang digunakan pada instrumen otomatis Diagast QWALYS® 3 EVO dengan metode E.M.® Technology (Erythrocyte Magnetized Technology) untuk pemeriksaan golongan darah beserta rhesus typing (Fenotyping).

Berbeda dari metode mikroplate pada umumnya, teknologi E.M.® pada Diagast QWALYS® 3 EVO bekerja dengan cara magnetisasi sel darah merah. Karena itu, proses pencucian dan sentrifugasi yang biasanya dibutuhkan dalam pengujian tidak lagi diperlukan.

 

Ketahui selengkapnya mengenai: QWALYS® 3 EVO: Inovasi dan fleksibilitas untuk otomatisasi imunohaematologi Anda

 

Adapun kit ini (Diagast DuoLys) dapat digunakan untuk:

    • Penentuan golongan darah ABO-RhD dan pemeriksaan fenotipe Rh dan Kell pada sel darah merah manusia.
    • Antigen yang dapat dideteksi oleh DuoLys adalah A (ABO1), B (ABO2), D (RH1), C (RH2), E (RH3), c (RH4), e (RH5) dan K (KEL1).
    • Untuk pemeriksaan golongan ABO lengkap termasuk forward dan reverse grouping.

Dengan dukungan alat otomatis Diagast QWALYS® 3 EVO, Kit Reagen DuoLys menghadirkan kemudahan dan kelengkapan dalam satu sistem. Pengujian golongan darah ABO, Rhesus Typing, hingga Kell dapat dilakukan secara komprehensif dalam satu kali pengujian. Solusi ini sangat ideal untuk menunjang praktik transfusi yang lebih cepat, tepat, dan aman.

Diagast QWALYS® 3 EVO dilengkapi dengan sistem perangkat lunak yang ramah pengguna, serta kemampuan walk-away system yang memungkinkan laboratorium Anda menghemat waktu pemeriksaan hingga 6 jam dengan otonomi fungsional penuh (tanpa intervensi user). Selain itu, stabilitas reagen DuoLys secara on-board dapat bertahan antara 2 hingga 15 hari.  Total throughput untuk pemeriksaan rhesus typing (fenotyping) Adalah sebanyak 56 test/jam.

 

Untuk informasi selengkapnya mengenai Diagast DuoLys & QWALYS® 3 EVO, Anda dapat mengunjungi halaman berikut ini:

Pelajari Selengkapnya

 

PT Medquest Jaya Global

Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan Inovatif dan Berkualitas Terbaik yang kami hadirkan:

Pelajari Selengkapnya

 

 

 

Referensi Artikel:

  1. Rosenkrans, D., Zubair, M., & Doyal, A. (2023). Rh blood group system. Dalam StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Diakses pada 5 Agustus 2025, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK594252/
  2. University of South Florida. (n.d.). Isoimmunization. Diakses pada 5 Agustus 2025, dari https://health.usf.edu/care/obgyn/services-specialties/mfm/isoimmunization
  3. American Red Cross. (n.d.). What is the Rh factor? Why is it important? Diakses pada 5 Agustus 2025, dari https://www.redcrossblood.org/local-homepage/news/article/what-is-the-rh-factor–why-is-it-important-.html
  4. Healthline. (n.d.). Rh incompatibility. Diakses pada 5 Agustus 2025, dari https://www.healthline.com/health/rh-incompatibility
  5. Dewi, I., Dalimoenthe, N. Z., Tjandrawati, A., & Suraya, N. (2019). Proportion of rhesus blood type phenotypes of routine blood donors at blood donor unit Indonesian Red Cross in Bandung City. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 25(2), 155–160.

 

Share

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.