Home 9 Blog 9 Ancaman Virus Nipah dan Wacana Pandemi Baru: Ini Fakta Ilmiah yang Perlu Dipahami

Ancaman Virus Nipah dan Wacana Pandemi Baru: Ini Fakta Ilmiah yang Perlu Dipahami

Feb 12, 2026 • 9 minutes read

Ancaman Virus Nipah dan Wacana Pandemi Baru: Ini Fakta Ilmiah yang Perlu Dipahami

Virus Nipah adalah penyakit zoonosis, yaitu infeksi yang dapat berpindah dari hewan ke manusia, dengan tingkat kematian yang tergolong tinggi. Penularan terutama terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pembawa virus, khususnya kelelawar pemakan buah, serta melalui produk hewan yang telah terkontaminasi.[1]

Pada manusia, infeksi Virus Nipah umumnya diawali dengan keluhan umum seperti demam, sakit kepala, dan gangguan pernapasan. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi berat berupa ensefalitis (peradangan otak) yang berisiko fatal. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik untuk Virus Nipah, sehingga pencegahan menjadi strategi paling krusial.[1]

Upaya pencegahan difokuskan pada pengendalian risiko sejak dini melalui sistem karantina yang ketat. Karantina berperan sebagai lapisan pertahanan utama dalam mencegah masuk dan menyebarnya penyakit zoonosis berbahaya, termasuk Virus Nipah.[1]

Langkah karantina dilakukan melalui:[1]

  • Pengawasan lalu lintas hewan, produk hewan, dan media pembawa lainnya
  • Pemeriksaan dan pengujian setiap pemasukan dan pengeluaran media pembawa
  • Tindakan karantina terstandar untuk memastikan seluruh komoditas bebas dari hama dan penyakit

Pendekatan ini memastikan perlindungan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tetap terjaga secara berkelanjutan, sekaligus meminimalkan risiko wabah penyakit lintas spesies yang berdampak luas.[1]

 

 

Sejarah Virus Nipah

Siklus hidup virus Nipah dan target molekuler untuk agen farmakologis

Siklus hidup virus Nipah dan target molekuler untuk agen farmakologis.[2]

Virus Nipah (Nipah virus/NiV) pertama kali dikenali sebagai penyebab infeksi pada manusia pada tahun 1998 di Kampung Sungai Nipah, Malaysia. Kasus awal ini berkembang menjadi wabah serius yang berlangsung hingga 1999 dan menimbulkan dampak kesehatan yang luas.[2]

  • Investigasi epidemiologi menunjukkan hubungan kuat antara infeksi manusia dan kontak langsung dengan babi.
  • Virus Nipah berhasil diidentifikasi dan diisolasi dari sekret hidung serta orofaring babi, memperkuat peran hewan tersebut sebagai inang perantara.
  • Penularan terjadi terutama pada populasi yang memiliki paparan intensif terhadap ternak terinfeksi.

Seiring waktu, wabah berskala kecil namun berulang terus dilaporkan hampir setiap tahun di kawasan Asia Selatan. Pola ini menjadi perhatian global karena angka kematian kasusnya sangat tinggi, bahkan dapat mencapai lebih dari 90% pada beberapa kejadian.[2]

Di wilayah di luar Semenanjung Malaya, wabah Virus Nipah menunjukkan karakteristik yang berbeda. Perbedaan ini tampak jelas pada cara penularan dan gambaran klinis yang muncul pada pasien.[2]

  • Gejala yang berkembang mencakup gangguan pernapasan berat selain komplikasi neurologis.
  • Penularan pada manusia ditelusuri melalui konsumsi daging kuda, kontak dekat dengan individu terinfeksi, serta konsumsi getah kurma mentah.
  • Getah kurma mentah dapat terkontaminasi cairan tubuh kelelawar, yang dikenal sebagai reservoir alami Virus Nipah.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa Virus Nipah memiliki dinamika penularan yang kompleks, melibatkan interaksi antara manusia, hewan ternak, satwa liar, serta kebiasaan konsumsi, sehingga memerlukan kewaspadaan dan pendekatan pengendalian yang komprehensif.[2]

 

Tanda dan Gejala Infeksi Virus Nipah

Infeksi virus Nipah menunjukkan spektrum gejala yang luas, mulai dari keluhan ringan hingga kondisi berat yang berisiko fatal. Pada sebagian kasus, infeksi dapat berkembang cepat dan berdampak serius pada sistem saraf pusat.[3]

Pada fase awal, penderita umumnya mengalami masa sakit sekitar 3–14 hari dengan keluhan yang relatif umum, antara lain:[3]

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Batuk dan nyeri tenggorokan
  • Sesak atau kesulitan bernapas

Seiring progresivitas infeksi, kondisi dapat memburuk dan memicu gangguan pada otak. Pada tahap ini dapat terjadi ensefalitis (radang otak), yang ditandai dengan gejala neurologis berat, seperti:[3]

  • Kebingungan dan penurunan kesadaran
  • Rasa kantuk berlebihan
  • Kejang

Pada kasus berat dengan keterlibatan sistem saraf, penurunan kondisi bisa berlangsung sangat cepat. Penderita dengan ensefalitis berisiko mengalami koma dalam waktu 24–48 jam, sehingga membutuhkan penanganan medis intensif dan segera.[3]

 

Kaitan Virus Nipah dan Kelelawar

Virus Nipah merupakan patogen zoonotik, yaitu virus yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus, yang dikenal luas sebagai rubah terbang. Kelelawar ini berperan penting dalam siklus alami virus tanpa menunjukkan tanda penyakit.[3]

Kasus pertama Virus Nipah teridentifikasi pada tahun 1999 melalui wabah pada babi dan manusia di Malaysia dan Singapura. Sekitar 300 orang terinfeksi dan lebih dari 100 kasus berujung kematian. Pada kejadian tersebut, penularan terjadi berurutan:[3]

  • Kelelawar buah → babi
  • Babi terinfeksi → manusia, terutama pekerja yang kontak dekat dengan ternak

Hingga kini, wabah Virus Nipah tercatat di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Meski demikian, distribusi kelelawar buah pembawa virus jauh lebih luas, mencakup Asia, Pasifik Selatan, hingga Australia, termasuk wilayah yang belum pernah melaporkan wabah Nipah.[3]

Kelelawar buah (kuning) bahkan ditemukan di daerah-daerah di mana wabah Nipah (merah) belum terjadi

Kelelawar buah (kuning) bahkan ditemukan di daerah-daerah di mana wabah Nipah (merah) belum terjadi.[3]

Sebagai reservoir alami, kelelawar buah tidak menunjukkan gejala klinis, namun virus dapat ditemukan pada:[4]

  • Saliva
  • Urin
  • Semen
  • Feses

Berbagai studi serologis menunjukkan adanya antibodi Virus Nipah pada beberapa spesies kelelawar, baik pemakan buah maupun serangga. Spesies yang pernah dilaporkan antara lain:[4]

  • Pteropus giganteus (India)
  • Pteropus lylei (Thailand, Kamboja)
  • Pteropus hypomelanus (Malaysia, Thailand)
  • Pteropus vampyrus (Malaysia, Indonesia)
  • Hipposideros larvatus (Thailand)
  • Taphozous spp. (Thailand)
  • Rousettus amplexicaudatus (Timor Leste)

Meski demikian, isolasi virus aktif dan deteksi molekuler paling konsisten ditemukan pada spesies dari genus Pteropus, sehingga kelompok ini dianggap memiliki peran utama dalam penularan.[4]

Faktor lingkungan turut memperkuat risiko penularan. Kerusakan habitat alami kelelawar akibat aktivitas manusia menyebabkan hewan ini mengalami stres dan kekurangan pakan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada:[4]

  • Penurunan sistem kekebalan tubuh kelelawar
  • Peningkatan jumlah virus (viral load)
  • Pelepasan virus yang lebih tinggi melalui urin dan air liur

Situasi ini meningkatkan peluang kontak virus dengan manusia dan hewan lain, sehingga memperbesar risiko munculnya wabah baru.[4]

 

Virus Nipah: Situasi Global dan Indonesia Terkini

Laporan Perkembangan Situasi Penyakit Infeksi Emerging Minggu Epidemiologi ke-4 Tahun 2026

Laporan Perkembangan Situasi Penyakit Infeksi Emerging Minggu Epidemiologi ke-4 Tahun 2026.[5]

Perkembangan global Penyakit Virus Nipah (Nipah Virus Disease/NVD) menunjukkan kewaspadaan yang terus meningkat. Pada 14 Januari 2025, India melaporkan 2 kasus terkonfirmasi dan 3 kasus suspek di West Bengal, seluruhnya berasal dari tenaga kesehatan.[5]

Rekap kasus terbaru memperlihatkan dinamika yang berbeda antar tahun. Pada tahun 2026, tercatat 2 kasus terkonfirmasi di West Bengal, India. Sementara itu, sepanjang tahun 2025 terdapat 10 kasus terkonfirmasi di Bangladesh serta wilayah Kerala dan West Bengal, India, dengan 6 kematian. Angka ini menunjukkan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 60%.[5]

Pola penularan di India dan Bangladesh cenderung sporadis dan berkaitan erat dengan faktor risiko utama, antara lain:[5]

  • Kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar dan babi
  • Konsumsi buah atau nira yang telah terkontaminasi

Kondisi di Indonesia hingga januari 2026 berada dalam status aman. Tidak terdapat laporan kasus suspek maupun terkonfirmasi Penyakit Virus Nipah. Pada tahun 2025, sempat ditemukan 9 pasien dengan kecurigaan infeksi Virus Nipah. Seluruhnya telah melalui pemeriksaan lanjutan dan dinyatakan negatif, sehingga tidak ditemukan bukti transmisi domestik.[5]

Meskipun Penyakit Virus Nipah masih muncul di beberapa negara dengan tingkat fatalitas tinggi, Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan adanya kasus aktif, namun tetap memerlukan kewaspadaan berkelanjutan berbasis surveilans dan kesiapsiagaan sistem kesehatan.[5]

 

Penularan Virus Nipah

Virus Nipah (Nipah Virus/NiV) menyebar melalui beberapa jalur utama yang berkaitan erat dengan interaksi manusia, hewan, dan lingkungan. Pola penularannya berbeda antarnegara, namun mekanisme dasarnya relatif serupa.[4]

Jalur penularan Virus Nipah meliputi:[4]

  • Kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti kelelawar, babi, atau kuda, termasuk paparan darah, urin, air liur, dan feses.
  • Konsumsi makanan atau minuman terkontaminasi, misalnya buah atau nira yang tercemar cairan tubuh hewan terinfeksi.
  • Penularan antar manusia, melalui kontak erat, droplet pernapasan, darah, atau urin penderita.

Pada Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaysia 1998–1999, sebagian besar infeksi manusia terjadi akibat kontak langsung dengan babi sakit atau jaringan babi yang terkontaminasi. Virus berpindah dari kelelawar ke babi melalui buah yang tercemar, lalu menyebar luas di populasi babi.[4]

Pekerja rumah potong hewan (RPH) menjadi kelompok berisiko tinggi karena sering terpapar sekresi, ekskresi, dan daging babi mentah yang terinfeksi. Distribusi serta impor babi dari Malaysia ke Singapura turut memperluas penyebaran kasus.[4]

Pada KLB Bangladesh dan India, penularan didominasi oleh transmisi dari kelelawar ke manusia, kemudian berlanjut antar manusia. Infeksi sering terjadi melalui konsumsi buah atau produk buah, terutama nira kurma mentah yang tercemar air liur atau urin kelelawar Pteropus.[4]

Beberapa kasus juga ditemukan pada individu yang memanjat pohon tempat kelelawar sering bertengger. Di Kerala, India, terdapat dugaan penularan langsung dari kelelawar ke manusia, meskipun bukti pendukungnya masih terbatas.[4]

Penularan antar manusia pada KLB di Bangladesh, Benggala Barat, dan Kerala banyak terjadi di lingkungan keluarga, pada pengasuh pasien, serta di fasilitas pelayanan kesehatan tanpa perantara hewan.[4]

Di Siliguri, India, sekitar 75% pasien memiliki riwayat paparan di rumah sakit, baik sebagai tenaga kesehatan maupun akibat kontak langsung dengan pasien terinfeksi.[4]

Kasus penularan dari jenazah ke manusia juga dilaporkan pada KLB Bangladesh Maret 2010, terutama saat proses penanganan dan perawatan jenazah tanpa perlindungan memadai.[4]

Sementara itu, KLB Filipina menunjukkan sumber infeksi utama berasal dari kuda yang terinfeksi. Penularan terjadi melalui kontak saat penyembelihan, paparan cairan tubuh, serta konsumsi daging yang dimasak tidak sempurna.[4]

Dari 17 kasus di Filipina, 5 kasus menunjukkan bukti penularan antar manusia, terutama saat perawatan pasien di rumah sakit dan di rumah, meskipun sumber awal infeksi pada kuda belum sepenuhnya teridentifikasi.[4]

 

Pencegahan Infeksi Virus Nipah

Upaya pencegahan virus Nipah berfokus pada pengendalian faktor risiko yang berkaitan dengan sumber penularan, kebersihan pangan, serta perlindungan diri. Langkah-langkah berikut terbukti efektif dan relevan untuk diterapkan oleh masyarakat maupun tenaga kesehatan:[6]

1. Keamanan Konsumsi Nira/Aren

Hindari mengonsumsi nira atau air aren yang diambil langsung dari pohon. Kelelawar berpotensi mencemari sadapan pada malam hari. Nira perlu dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.

2. Kebersihan Buah

Buah wajib dicuci dan dikupas secara menyeluruh sebelum dimakan. Buang buah yang menunjukkan tanda gigitan atau kerusakan akibat hewan, terutama kelelawar.

3. Keamanan Pangan Hewani

Daging ternak harus dimasak sampai benar-benar matang untuk menurunkan risiko penularan virus.

4. Penerapan Protokol Kesehatan

Lakukan cuci tangan pakai sabun atau gunakan hand sanitizer, terapkan etika batuk dan bersin, serta gunakan masker saat mengalami gejala. Langkah ini penting, termasuk bagi kelompok rentan.

5. Pembatasan Kontak dengan Hewan Berisiko

Hindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi terinfeksi, seperti kelelawar dan babi. Jika kontak tidak dapat dihindari, gunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar.

6. Perlindungan bagi Tenaga Kesehatan dan Petugas Laboratorium

Tenaga kesehatan, keluarga perawat pasien, serta petugas laboratorium yang menangani spesimen wajib menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) secara konsisten dan benar.

Rangkaian langkah di atas saling berkaitan dan bertujuan memutus rantai penularan sejak dari sumber, proses konsumsi, hingga penanganan pasien, sehingga risiko penyebaran virus Nipah dapat ditekan secara optimal.[6]

 

Apakah Vaksin untuk Mencegah Penyakit Virus Nipah Sudah Tersedia?

Hingga saat ini, vaksin yang secara khusus dirancang untuk mencegah infeksi virus Nipah masih belum tersedia untuk penggunaan umum. Kondisi ini membuat pencegahan menjadi aspek paling krusial dalam melindungi masyarakat dari risiko penularan.

Sebagai langkah perlindungan yang realistis dan efektif, fokus utama diarahkan pada pengendalian faktor risiko, antara lain:

  • Menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menjadi reservoir virus, seperti kelelawar buah.
  • Menjaga keamanan pangan, terutama dengan tidak mengonsumsi buah atau produk yang berisiko terkontaminasi.
  • Menerapkan kebersihan diri dan lingkungan, termasuk cuci tangan secara rutin dan sanitasi yang baik.

Pendekatan pencegahan berbasis perilaku dan lingkungan ini menjadi strategi utama dalam menekan risiko penularan virus Nipah, sambil menunggu pengembangan vaksin yang aman dan efektif di masa mendatang.

 

Baca juga:

Kalender Hari-Hari Bidang Kesehatan 2026

Pemeriksaan Darah Lengkap (CBC) 3 diff & 5 diff: Apa Bedanya?

Hormon Tiroid dan Perannya Bagi Tubuh

Validasi Proses Produksi di Industri Pangan dan Farmasi

 

FAQ Seputar Ancaman Virus Nipah dan Wacana Pandemi Baru

1. Mengapa Virus Nipah Kembali Dibahas sebagai Ancaman Pandemi Baru?

Virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi dan terus memicu wabah sporadis di beberapa negara. Pola penularannya lintas spesies membuat risiko penyebaran luas tetap terbuka.

2. Apa yang Membuat Virus Nipah Lebih Berbahaya Dibanding Virus Zoonosis Lain?

Infeksi Virus Nipah dapat berkembang cepat menjadi ensefalitis atau peradangan otak. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi spesifik, sehingga risiko fatalitas tetap tinggi.

3. Bagaimana Awal Mula Kemunculan Virus Nipah?

Virus Nipah pertama kali menyebabkan wabah pada manusia tahun 1998–1999 di Malaysia, dengan penularan utama dari babi yang terinfeksi setelah terpapar virus dari kelelawar buah.

4. Peran Apa yang Dimainkan Kelelawar Dalam Ancaman Virus Nipah?

Kelelawar buah dari genus Pteropus merupakan reservoir alami Virus Nipah. Virus dilepaskan melalui air liur, urin, dan feses, yang dapat mencemari lingkungan dan pangan.

5. Bagaimana Virus Nipah Dapat Menular ke Manusia?

Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta kontak erat dengan penderita dalam kondisi tertentu.

6. Apakah Penularan antar Manusia Berpotensi Memicu Pandemi?

Penularan antar manusia telah dilaporkan pada beberapa wabah, terutama di keluarga dan fasilitas kesehatan. Situasi ini memperkuat kekhawatiran akan potensi penyebaran yang lebih luas.

7. Sejauh Mana Situasi Global Virus Nipah Saat Ini?

Kasus masih muncul secara sporadis di India dan Bangladesh dengan tingkat kematian yang signifikan. Kondisi ini menjadi perhatian global karena virus belum dapat dikendalikan dengan vaksin.

8. Bagaimana Status Virus Nipah di Indonesia?

Hingga awal 2026, Indonesia belum mencatat kasus terkonfirmasi Virus Nipah. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena keberadaan reservoir alami di wilayah regional.

9. Apa Langkah Pencegahan Paling Penting untuk Menekan Risiko Wabah?

Pencegahan difokuskan pada keamanan pangan, kebersihan diri, pembatasan kontak dengan hewan berisiko, serta penerapan protokol kesehatan dan karantina secara ketat.

10. Apakah Sudah Ada Vaksin untuk Mencegah Virus Nipah?

Vaksin Virus Nipah belum tersedia untuk penggunaan umum. Saat ini, pencegahan berbasis perilaku dan pengendalian risiko menjadi strategi utama menghadapi ancaman pandemi baru.

 

PT Medquest Jaya Global

Sebagai bagian dari komunitas kesehatan, kami berkomitmen menyediakan alat kesehatan dan solusi inovatif guna mendukung program kesehatan nasional di Indonesia. Kunjungi halaman berikut untuk informasi lebih lanjut mengenai Alat Kesehatan inovatif dan berkualitas terbaik yang kami hadirkan:

Pelajari Selengkapnya

 

 

Referensi Artikel:

  1. Badan Karantina Indonesia. (2026). Waspada virus Nipah: Badan Karantina Indonesia memperketat pengawasan internasional. Diakses dari https://karantinaindonesia.go.id/detailberita/Waspada-Virus-Nipah.-Badan-Karantina-Indonesia-Memperketat-Pengawasan-Internasional
  2. Hauser, N., Gushiken, A. C., Narayanan, S., Kottilil, S., & Chua, J. V. (2021). Evolution of Nipah virus infection: Past, present, and future considerations. Tropical Medicine and Infectious Disease, 6(1), 24. https://doi.org/10.3390/tropicalmed6010024
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). About Nipah virus (NiV). Diakses dari https://www.cdc.gov/nipah-virus/about/index.html
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit virus Nipah di Indonesia. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). https://perpustakaan.kemkes.go.id/inlislite3/uploaded_files/dokumen_isi/Monograf/Pedoman%20pencegahan%20pengendalian%20penyakit.pdf
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Perkembangan situasi penyakit infeksi emerging minggu epidemiologi ke-4 tahun 2026. Diakses dari https://infeksiemerging.kemkes.go.id/document/perkembangan-situasi-penyakit-infeksi-emerging-minggu-epidemiologi-ke-4-tahun-2026/view
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Frequently asked questions (FAQ) penyakit virus Nipah. Diakses dari https://infeksiemerging.kemkes.go.id/faq-penyakit-virus-nipah/frequently-asked-questions-faq-penyakit-virus-nipah
Share

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.