Home 9 Blog 9 Glycated Serum Protein: Marker Pemantau Kadar Gula Pasien DM

Glycated Serum Protein: Marker Pemantau Kadar Gula Pasien DM

Apr 5, 2024 • 5 minutes read

Glycated Serum Protein (GSP) adalah jumlah glukosa yang melekat pada total protein serum yang menunjukkan jumlah rata-rata glukosa dalam darah selama dua hingga tiga minggu sebelumnya. GSP berfungsi sebagai indikator rata-rata glukosa darah selama 2-3 minggu, menutup kesenjangan informasi antara glukosa darah harian dan pemantauan HbA1c. Penelitian telah menunjukkan bahwa GSP dapat digunakan secara andal dalam kondisi medis yang berdampak pada masa hidup sel darah merah sehingga menurunkan keakuratan pengukuran HbA1c.[1]

Pada artikel ini kita akan membahas mengenai macam-macam pemeriksaan gula darah, penjelasan selengkapnya mengenai pemeriksaan Glycated Serum Protein (GSP), keutamaan pemeriksaan GSP bagi pasien diabetes melitus, serta rekomendasi waktu untuk melakukan pemeriksaan GSP.

Macam – Macam Pemeriksaan Gula Darah

Hiperglikemia adalah suatu kondisi medis dimana terjadinya peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal yang menjadi karakteristik beberapa penyakit, terutama diabetes melitus, disamping berbagai kondisi lainnya. Diabetes Melitus (DM) saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Berdasarkan penyebabnya, DM dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional dan DM tipe lain.[2]

Penelitian epidemiologis menunjukkan ada kecenderungan peningkatan angka kejadian dan jumlah penyakit DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia. World Health Organization (WHO) meramalkan ada peningkatan jumlah pasien DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. International Diabetes Federation (IDF) juga menunjukkan bahwa pada tahun 2019 – 2030 terdapat kenaikan jumlah pasien DM dari 10,7 juta menjadi 13,7 pada tahun 2023.[2]

Tabel deskripsi tipe-tipe diabetes.

Tabel deskripsi tipe-tipe diabetes.[2]

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan prevalensi diabetes yang tinggi, dengan total kasus diabetes pada orang dewasa mencapai 10 juta kasus atau 6,2% dari total populasi orang dewasa. Di seluruh dunia, prevalensi diabetes terus meningkat.[2]

Pada tahun 2019, 463 juta orang di seluruh dunia hidup dengan diabetes, mewakili 9,3% dari total populasi orang dewasa global (berusia 20-79 tahun). Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 578 juta (10,2%) pada tahun 2030 dan 700 juta (10,9%) pada tahun 2045.[2]

Pemantauan glukosa darah membantu mengidentifikasi pola fluktuasi kadar glukosa darah (gula) yang terjadi sebagai respon terhadap pola makan, olahraga, pengobatan, dan proses patologis yang terkait dengan fluktuasi glukosa darah, seperti diabetes melitus. Kadar glukosa darah yang sangat tinggi atau rendah berpotensi menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa, baik akut maupun kronis.[3, 4]

Pemantauan kadar glukosa darah (BGL) atau kadar gula darah (BSL) yang dilakukan di luar fasilitas klinis, seperti di rumah, sering disebut dengan tes glukosa darah kapiler (CBG). Sebaliknya, tes glukosa darah yang dilakukan di fasilitas klinis mungkin termasuk tes darah vena CBG dan glukosa plasma.[3, 4]

Pemeriksaan kadar gula darah merupakan pengukuran langsung terhadap keadaan pengendalian kadar gula darah pasien pada waktu tertentu saat pengujian. Ada beberapa jenis pemeriksaan kadar glukosa darah yang sering dikerjakan, antara lain:[2]

    • Tes glukosa darah sewaktu
    • Tes glukosa darah puasa
    • Tes glukosa 2 jam setelah makan
    • Tes toleransi glukosa oral
    • HbA1c
    • GSP
Biomaker-biomarker protein yang terglisasi.

Biomaker-biomarker protein yang terglisasi. Sumber: Sciencedirect.

Apa itu Pemeriksaan Glycated Serum Protein

Glycated Serum Protein (GSP), diukur sebagai konsentrasi fruktosamin serum dalam mol/L, merupakan produk reaksi glikasi antara glukosa dan protein serum dalam sirkulasi darah. GSP digunakan bersama dengan glukosa darah, hemoglobin terglikasi (HbA1c), dan albumin terglikasi sebagai indikator kontrol glikemik pada pasien diabetes. Kadar GSP meningkat secara signifikan pada pasien diabetes yang juga mengalami peningkatan kadar glukosa darah, hemoglobin terglikasi (HbA1c), dan albumin terglikasi.[5]

Kadar glukosa darah puasa dan postprandial dapat mencerminkan kadar glukosa darah sementara sedangkan hemoglobin terglikasi mencerminkan rata-rata kadar glukosa darah. kadar glukosa selama 6-8 minggu terakhir. Waktu paruh protein plasma adalah sekitar 21 hari, diasumsikan bahwa kadar GSP relatif stabil dan dapat mencerminkan kadar glukosa darah dalam tubuh manusia dalam waktu 2 -3 minggu.[5]

Ilustrasi cara uji GSP (fruktosamin) dilakukan. Sumber: verywell.

Ilustrasi cara uji GSP (fruktosamin) dilakukan. Sumber: verywell.

Metode untuk menentukan tingkat Glycated Serum Protein (GSP) telah diperbaiki selama beberapa dekade. Karena GSP diukur sebagai total fruktosamin (μmol/L) yang terdeteksi dalam serum, banyak metode telah dikembangkan untuk meningkatkan spesifisitas dalam mengukur fruktosamin serum.[5]

Teknik pertama yang dikembangkan pada tahun 1983 didasarkan pada reduksi Nitro Blue Tetrazolium (NBT) menjadi asam format. Laju pembentukan asam format kemudian dapat dipantau secara spektrofotometri, yang sebanding dengan konsentrasinya.[5]

Keutamaan Pemeriksaan Glycated Serum Protein Pada Pasien Diabetes Melitus

Pengukuran Glycated Serum Protein (GSP) memiliki beberapa keunggulan, seperti: cepat, sederhana, murah, dan mudah diotomatisasi, serta hanya diperlukan sejumlah kecil serum pasien.[6]

Karena tingkat GSP menunjukkan fluktuasi yang lebih besar dibandingkan HbA1c, terjadi perubahan cepat pada glukosa darah dapat dideteksi lebih awal ketika level GSP digunakan untuk pemantauan. Oleh karena itu, pengukuran GSP dapat digunakan tidak hanya sebagai biomarker pengganti untuk pengendalian glikemik dalam kondisi ketika tingkat HbA1c tidak dapat diandalkan, tetapi juga untuk mengidentifikasi gangguan pengendalian glikemik sebelum perubahan signifikan dalam tingkat HbA1c terdeteksi.[6]

Nilai GSP digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan HbA1c untuk skrining dan diagnosis diabetes. Nilai GSP juga diusulkan untuk mendeteksi pasien yang berisiko diabetes dan untuk pengobatan diabetes.[6]

Selain memantau kontrol glikemik jangka pendek, GSP dilaporkan dikaitkan dengan risiko aterosklerosis, komplikasi mikrovaskuler diabetes, dan hasil terkait penyakit kardiovaskular. Penilaian GSP tidak mengharuskan individu yang dijadikan sampel untuk berpuasa dan dapat dilakukan dengan menggunakan sampel beku.[6]

Rekomendasi Waktu Pemeriksaan Glycated Serum Protein

Karena pergantian albumin serum manusia jauh lebih pendek (waktu paruh 14-20 hari) dibandingkan dengan hemoglobin (masa hidup eritrosit 120 hari), derajat glikasi protein serum (kebanyakan albumin) memberikan indeks glikemia melebihi waktu yang lebih singkat dibandingkan glikasi hemoglobin.[7]

Pengukuran total Glycated Serum Protein (GSP) dan glikasi serum albumin (GSA) berkorelasi baik satu sama lain dengan pengukuran HbA1c. Dalam situasi di mana HbA1c tidak dapat diukur atau tidak berguna (misalnya anemia hemolitik), uji GSP mungkin berguna dalam penilaian rejimen pengobatan.[7]

Beberapa metode telah dijelaskan untuk mengukur total GSP atau total GSA. Salah satu yang paling banyak digunakan disebut uji fruktosamin. Nilai GSP bervariasi sesuai perubahan sintesis atau pembersihan protein serum yang dapat terjadi pada penyakit sistemik akut atau penyakit hati. Selain itu, terdapat perdebatan mengenai apakah tes fruktosamin harus dikoreksi untuk protein serum atau konsentrasi albumin serum.[7]

Pengukuran Glycated Serum Protein (GSP), termasuk fruktosamin, telah digunakan untuk mendokumentasikan perubahan yang relatif jangka pendek (misalnya 1-2 minggu) pada status glikemik, seperti pada kehamilan penderita diabetes atau setelah perubahan besar dalam terapi.[7]

Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah tes tersebut memberikan informasi klinis yang berguna dalam situasi ini. Pengukuran GSP dan HbA1c secara bersamaan mungkin saling melengkapi dan memberikan informasi klinis yang lebih berguna dibandingkan pengukuran HbA1c saja.[7]

Temukan informasi selengkapnya seputar kesehatan dengan mengunjungi halaman berikut ini:

Pelajari Selengkapnya

Referensi Artikel:

  1. Ai M, Otokozawa S, Asztalos BF, et al. Adiponectin: an independent risk factor for coronary heart disease in men in the Framingham Off spring Study. Atherosclerosis. 2011;217(2):543-548.
  2. Oktariana, D., Prasasty, G. D., Lusiana, E., Tamzil, N. S., Liana, P., & Rahadiyanto, K. Y. (2021). BLOOD GLUCOSE TEST FOR DM TYPE 2. Conferences of Medical Sciences Dies Natalis Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya (pp. 123-128). Palembang: Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya.
  3. American Diabetes Association; Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care 1 January 2009; 32 (Supplement_1): S62–S67. https://doi.org/10.2337/dc09-S062
  4. Emerging Risk Factors Collaboration, Sarwar, N., Gao, P., Seshasai, S. R., Gobin, R., Kaptoge, S., Di Angelantonio, E., Ingelsson, E., Lawlor, D. A., Selvin, E., Stampfer, M., Stehouwer, C. D., Lewington, S., Pennells, L., Thompson, A., Sattar, N., White, I. R., Ray, K. K., & Danesh, J. (2010). Diabetes mellitus, fasting blood glucose concentration, and risk of vascular disease: a collaborative meta-analysis of 102 prospective studies. Lancet (London, England), 375(9733), 2215–2222. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(10)60484-9.
  5. Xueling Wang, R. Z. (2019). Chapter Nineteen – Glycated serum proteins: High in pancreatic cancer and low in preeclampsia. In R. Z. Xueling Wang, Progress in Molecular Biology and Translational Science (pp. 321-333). Qingdao: ELSEVIER.
  6. Johnson, M. P., Keyho, R., Blackburn, N. B., Laston, S., Kumar, S., Peralta, J., Thapa, S. S., Towne, B., Subedi, J., Blangero, J., & Williams-Blangero, S. (2019). Glycated Serum Protein Genetics and Pleiotropy with Cardiometabolic Risk Factors. Journal of diabetes research, 2019, 2310235. https://doi.org/10.1155/2019/2310235
  7. Kovács G. L. (2002). Modern Aspects of Laboratory Diagnosis and Monitoring of Diabetes Mellitus. EJIFCC, 13(5), 170–180.

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.