Home 9 Blog 9 Pentingnya Screening Tuberkulosis (TB) untuk Medical Check Up Visa

Pentingnya Screening Tuberkulosis (TB) untuk Medical Check Up Visa

Apr 13, 2023 • 9 minutes read

Pentingnya Screening Tuberkulosis (TB) untuk Medical Check Up Visa

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang paling banyak mematikan di dunia. Menurut Yayasan KNCV Indonesia (2022), berdasarkan laporan terbaru Global TB Report 2022 yang dikeluarkan oleh WHO, kasus TB di Indonesia telah mencapai angka yang mengkhawatirkan.

Diperkirakan terdapat sekitar 969.000 kasus TB (satu orang setiap 33 detik) di Indonesia pada tahun 2021, yang menunjukkan peningkatan sebesar 17% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Setiap 100.000 penduduk di Indonesia, sekitar 354 orang menderita TB – sebuah statistik yang mengerikan.

Meskipun begitu, angka ini mungkin hanya sebagian dari masalah. Karena jumlah pasien TB yang berhasil ditemukan dan dilaporkan hanya sebesar 45,7%, atau sekitar 443.235 orang dari total 969.000, masih ada sekitar 54,3% atau 525.765 kasus TB lainnya yang belum ditemukan dan dilaporkan. Selain itu, Indonesia juga memiliki sekitar 8.268 kasus TB Resistan Obat (TB-RO), dengan 5.234 orang yang telah memulai pengobatan.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa penanganan TB di Indonesia masih memerlukan perhatian serius dan upaya yang lebih besar. Indonesia sendiri berada pada posisi kedua dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia setelah India, diikuti oleh China, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh dan Republik Demokratik Kongo secara berutan.

Dengan adanya kemungkinan peningkatan penderita Tuberculosis (TB) dari luar negeri dan untuk menjaga keamanan serta kesehatan negara, maka dengan pertimbangan tersebut beberapa negara mulai memberlakukan sistem baru kepada negara dengan kasus TB tinggi, termasuk Indonesia. Warga negara Indonesia yang akan tinggal di suatu negara dalam jangka waktu tertentu diwajibkan untuk melampirkan Certificate of Health TB dari Rumah Sakit yang telah ditentukan oleh Kedutaan Besar Negara Terkait.

Pada artikel ini kita akan membahas mengenai kriteria seseorang perlu melakukan medical check up visa, ketentuan yang berlaku di beberapa negara terkait TB serta solusi yang dapat menjawab atas permasalahan penyakit tuberkulosis ini.

Apa itu Medical Check Up Visa?

Ilustrasi medical check up.

Ilustrasi medical check up. Sumber: Mitra Keluarga.

 

Medical check up visa adalah pemeriksaan kesehatan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pengajuan Visa ke negara tertentu. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk memastikan bahwa calon pengunjung atau penduduk negara tersebut dalam kondisi sehat dan tidak membawa penyakit menular.

Beberapa negara mewajibkan medical check up visa untuk mencegah calon pengunjung yang memiliki kondisi kesehatan tertentu menjadi beban pada sistem kesehatan mereka. Pemeriksaan kesehatan ini meliputi tes medis dasar seperti tes darah, tes urine, pemeriksaan fisik, dan radiografi dada (rontgen thoraks).

Hasil dari pemeriksaan ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah seseorang layak mendapatkan Visa atau tidak. Jika hasilnya menunjukkan bahwa seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu, maka Visa dapat diberikan dengan batasan tertentu atau bahkan pengajuan Visa ditolak.

Medical check up visa juga membantu mencegah penyebaran penyakit menular antar negara dan memastikan keamanan kesehatan masyarakat di negara tujuan. Oleh karena itu, menjalani medical check up visa sangat penting bagi calon pengunjung atau penduduk negara lain yang ingin berkunjung atau menetap di negara tertentu.

 

Indikasi Diperlukan Medical Check Up Visa

Ilustrasi indikasi medical check up.

Ilustrasi indikasi medical check up. Sumber: Life Pack.

 

Medical check up visa atau pemeriksaan kesehatan untuk tujuan Visa menjadi salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin berkunjung ke suatu negara. Adapun indikasi yang mengharuskan seseorang melakukannya cukup bervariasi, tergantung pada aturan yang berlaku di negara tujuan.

Berikut ini adalah beberapa kondisi yang sering menjadi indikasi untuk melakukan medical check up visa:

1. Tinggal atau Menetap di Negara Tujuan

Jika seseorang berencana untuk tinggal atau menetap di negara tujuan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka mereka biasanya diwajibkan untuk melakukan medical check up visa. Misalnya, untuk tinggal selama lebih dari 12 bulan di Selandia Baru, lebih dari 6 bulan di Inggris, atau lebih dari 6 bulan di Kanada.

2. Bekerja Musiman atau Pelajar

Selain untuk keperluan menetap atau tinggal sementara, seseorang yang mengajukan Visa sebagai pekerja musiman atau pelajar di negara tujuan juga harus melakukan medical check up visa. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa mereka dalam kondisi kesehatan yang baik dan tidak membawa penyakit yang berpotensi menular di negara tujuan.

3. Pernah Berkunjung atau Berasal dari Negara Kejadian TB atau HIV/AIDS Tinggi

Negara-negara tertentu mengharuskan seseorang yang pernah berkunjung atau berasal dari negara yang memiliki angka kejadian tuberkulosis atau HIV/AIDS yang tinggi untuk melakukan medical check up visa. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran penyakit yang berpotensi membahayakan masyarakat di negara tujuan.

4. Penderita atau Berisiko Infeksi Serius

Seseorang yang menderita atau berisiko menderita infeksi serius, seperti HIV atau hepatitis B, biasanya diharuskan melakukan medical check up visa. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa mereka tidak membawa penyakit yang berpotensi menular di negara tujuan.

5. Memiliki Riwayat NAPZA atau Transfusi Darah

Seseorang yang memiliki riwayat penggunaan NAPZA atau pernah menjalani transfusi darah juga harus melakukan medical check up visa. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa mereka dalam kondisi kesehatan yang baik dan tidak membawa penyakit yang berpotensi menular di negara tujuan.

6. Wanita yang Berencana Melahirkan di Negara Tujuan

Bagi wanita hamil yang memiliki rencana untuk melahirkan di negara tujuan, juga diwajibkan untuk melakukan medical check up visa. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kondisi kesehatan ibu dan bayi dalam keadaan baik saat proses persalinan nantinya.

Dalam melakukan pemeriksaan kesehatan diri terkait pengajuan Visa, seseorang akan menjalani beberapa tes kesehatan yang meliputi pemeriksaan fisik, tes darah, tes urine, tes penglihatan, serta tes pendengaran. Selain itu, beberapa negara juga memerlukan tes tambahan seperti tes sinar-X (rontgen), tes HIV/AIDS, tes tuberkulosis, dan tes kesehatan mental. Oleh karena itu, sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri, penting untuk mengecek persyaratan Visa dan apakah diwajibkan untuk menjalani medical check up visa.

Negara yang Mensyaratkan Medical Check Up TB

Medical check up visa menjadi kewajiban di beberapa negara untuk mencegah pengunjung dengan kondisi kesehatan tertentu menjadi beban pada sistem kesehatan. Berikut beberapa contoh Negara yang mensyaratkan pemeriksaan TB untuk pengajuan Visa, di antaranya:

 

1. Korea Selatan

Gambar suasana kota di Korea Selatan. Sumber: Unsplash.

Gambar suasana kota di Korea Selatan. Sumber: Unsplash.

 

Melansir dari halaman website Korea Visa Application Center, Pemerintah Republik Korea menginformasikan bahwa dengan adanya kemungkinan peningkatan penderita Tuberculosis (TB) dari luar negeri seperti Indonesia, dan untuk menjaga keamanan serta kesehatan negara, maka dengan pertimbangan tersebut Pemerintah Korea Selatan mulai memberlakukan sistem baru kepada 18 Negara, termasuk Indonesia.

Berlaku mulai 2 Maret 2016, bagi yang akan tinggal di Korea Selatan selama lebih dari 91 Hari, diwajibkan untuk melampirkan Certificate of Health TB dari rumah sakit yang telah ditentukan oleh Kedutaan Besar Republik Korea.

Berikut ini skema screening TB yang hendak berkunjung ke Korea Selatan:

 

Ilustrasi skema skrining TB yang hendak masuk ke Korea Selatan

Ilustrasi skema skrining TB yang hendak masuk ke Korea Selatan

 

Terdapat 114 RS (Rumah Sakit) rujukan untuk medical check up visa yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar bagi pemohon Visa Korea Selatan. Untuk selengkapnya dapat dilihat disini : Daftar RS Rujukan medical check up visa Korea Selatan.

 

2. United Kingdom (UK)

Gambar suasana kota di United Kingdom (UK)

Gambar suasana kota di United Kingdom (UK).

 

Jika Anda berencana untuk tinggal di wilayah United Kingdom (UK) selama lebih dari 6 bulan, Anda diwajibkan untuk menjalani tes Tuberkulosis (TB). Tes pertama yang dilakukan adalah rontgen dada (toraks) untuk mengevaluasi adanya tanda-tanda TB. Jika hasil rontgen menunjukkan adanya kelainan, maka calon pengunjung diminta untuk memberikan sampel dahak (sputum) untuk diuji lebih lanjut.

Meskipun wajib dilakukan, tes TB sebenarnya merupakan langkah pencegahan yang penting untuk memastikan bahwa pengunjung yang datang ke Inggris tidak membawa masalah kesehatan tertentu yang dapat mengganggu sistem kesehatan setempat.

Selain itu, dengan mengetahui status kesehatan pengunjung, petugas imigrasi dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memastikan keselamatan dan kesehatan masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat penting untuk mematuhi aturan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam pemeriksaan TB untuk pengajuan Visa UK.

Melansir halaman website Government UK, pemeriksaan TB untuk Visa UK dapat dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk, seperti :

BIMC Hospital Kuta di Bali, RSPI Puri Indah (Jakarta), RS Pondok Indah (Jakarta), RS Premier Jatinegara (Jakarta), Rumah Sakit Premier Surabaya, RS Pondok Indah Bintaro Jaya di Tangerang, dan RS Premier Bintaro.

 

3. Australia

Gambar suasana kota di Australia. Sumber: Unsplash.

Gambar suasana kota di Australia. Sumber: Unsplash.

 

Melansir dari halaman website Australian Government Department of Home Affairs Immigration and Citizenship, berikut ini adalah beberapa poin penting mengenai persyaratan pemeriksaan kesehatan untuk pemohon visa Australia:

  • Tes tuberkulosis merupakan bagian dari proses aplikasi visa permanen. Namun, pemohon visa sementara juga mungkin diminta untuk mengikuti tes ini jika terdapat risiko tertentu.
  • Pemohon visa berusia 11 tahun ke atas harus melakukan rontgen dada (toraks) untuk memastikan bahwa mereka tidak memiliki tuberkulosis aktif. Untuk pelamar berusia 2 tahun atau lebih dan di bawah 11 tahun dari negara-negara dengan risiko tuberkulosis yang lebih tinggi, terdapat pengaturan tes alternatif yang dapat dilakukan.
  • Pemohon visa berusia 15 tahun ke atas yang berniat untuk bekerja, belajar atau berlatih dalam bidang perawatan kesehatan, perawatan lanjut usia atau perawatan disabilitas juga harus menjalani tes screening infeksi tuberkulosis laten jika berasal dari negara dengan risiko tuberkulosis yang lebih tinggi seperti Indonesia.
  • Selain tes tuberkulosis, pemohon visa Australia yang berusia 15 tahun atau lebih juga harus melakukan tes HIV jika mengajukan visa permanen atau akan bekerja sebagai (atau belajar untuk menjadi) dokter, perawat, dokter gigi atau paramedis di Australia. Tes HIV juga harus dilakukan jika pemohon memiliki riwayat transfusi darah, atau ada indikasi klinis bahwa mungkin positif HIV, atau ibu kandung menderita atau pernah positif HIV.
  • Pemohon visa juga harus melakukan pemeriksaan Hepatitis jika sedang dalam kondisi hamil, atau mengajukan visa adopsi, atau mengajukan visa kemanusiaan sementara, resolusi status atau perlindungan, atau seorang pengungsi di bawah umur tanpa pendamping, atau berniat untuk bekerja sebagai (atau belajar untuk menjadi) seorang dokter, perawat, dokter gigi atau paramedis di Australia.

Dalam rangka memenuhi persyaratan pemeriksaan kesehatan untuk visa Australia, pemohon perlu mempersiapkan diri dengan baik dan melakukan tes yang diperlukan. Penting untuk diingat bahwa hasil tes kesehatan ini akan menjadi bagian dari proses pengajuan Visa dan dapat mempengaruhi keputusan akhir. Oleh karena itu, pemohon harus memastikan bahwa mereka memenuhi semua persyaratan dan menjalani tes dengan benar dan tepat waktu.

Berikut beberapa lokasi untuk pemeriksaan medis Visa Australia : RS Premier Bintaro Hospital, Pramita Laboratory and Diagnostic Clinic, RS Premier Jatinegara Hospital, St Elisabeth Hospital, RS Premier Surabaya, BIMC Hospital.

 

Mekanisme Medical Check Up

Dalam rangka memenuhi syarat mendapatkan medical check up visa, dokter akan melakukan beberapa jenis pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang.

Berikut ini adalah beberapa jenis pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan:

1. Pemeriksaan laboratorium

Merupakan pemeriksaan dengan meliputi pengambilan sampel darah dan urine untuk dianalisis di laboratorium guna mendeteksi infeksi, seperti HIV, hepatitis, infeksi saluran kemih, atau sifilis. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seseorang tidak membawa penyakit menular ke negara tujuan dan tidak menjadi beban pada sistem kesehatan negara tersebut.

2. Foto Rontgen

Umumnya hal yang dilakukan adalah rontgen dada (thorax), ditujukan untuk memeriksa kondisi jantung dan melihat kemungkinan infeksi paru, seperti tuberkulosis. Hal ini sangat penting, terutama jika seseorang berasal dari negara yang memiliki angka kejadian tuberkulosis yang tinggi.

3. Tes Tuberkulosis (TB)

Dilakukan karena Indonesia merupakan negara yang endemik Tuberkulosis (TB). Beberapa negara mungkin akan mewajibkan pemeriksaan TB sebelum memberikan Visa. Selain foto rontgen dada, tes untuk mendeteksi Tuberkulosis juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan dahak dan tes Mantoux.

 

Solusi Medical Check Up Mendeteksi TB

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, pemeriksaan TB bagi seseorang yang hendak mengajukan Visa kunjungan ke suatu negara tertentu merupakan hal wajib dan tentunya penting, selain karena kebutuhan administratif, tentunya hal ini penting dalam memberantas penyebaran penyakit yang berada di peringkat 1 sebagai penyakit menular paling mematikan di dunia menurut WHO.

Selain itu, secara global pada tahun 2019, diperkirakan 10,0 juta orang menderita TB. Ada 1,4 juta kematian TB (14% di antara orang HIV-positif). Saat ini, tantangan bagi komunitas TB global adalah untuk ‘Mengakhiri TB’.

Menurut Pramana, P.H. (2021), ketergantungan pada mikroskop, dengan sensitivitas hanya 68%, merupakan keterbatasan dalam diagnosis TB. Untuk mendukung tujuan eliminasi penyakit ini, kita harus menerapkan penemuan kasus aktif yang efisien. Deteksi dini yang tepat sangat diperlukan untuk meningkatkan manajemen kasus dan secara signifikan meningkatkan pencegahan penularan TB.

Baca Juga: Tes Cepat Molekuler (TCM) Solusi Pemerintah RI Menangani TB

Dalam mengatasi penyakit Tuberkulosis (TB) ini, Cepheid GeneXpert System menghadirkan sebuah solusi yang menyediakan pemeriksaan yang lebih cepat dan akurat yang mampu mendeteksi Mycobacterium Tuberculosis (MTB) dan resistensi rifampisin (RIF) secara bersamaan, yaitu Xpert MTB/RIF Ultra.

Xpert_MTB/RIF_Ultra_Cepheid_Tes Cepat Molekuler_TCM - PT Medquest Jaya Global

Gambar produk Xpert MTB/RIF Ultra

 

Xpert® MTB/RIF Ultra memiliki kemampuan mendeteksi kasus Tuberkulosis yang sensitif dan resistan terhadap obat TB dalam waktu kurang dari 80 menit. Xpert MTB/RIF Ultra merevolusi manajemen infeksi Mycobacterium Tuberculosis (MTB) dengan menyediakan hasil diagnosis pendeteksian MTB yang lebih cepat dan akurat dan resistensi rifampisin (RIF) secara bersamaan.

Mengikuti rekomendasi WHO pada tahun 2010, Xpert MTB/RIF Ultra telah membantu meningkatkan program TB di lebih dari 130 negara dan terus bertambah.

Berikut alur Algoritma pemeriksaan sputum yang sudah direkomendasikan oleh WHO menggunakan metode tes molekuker menggunakan Xpert MTB/RIF Ultra :

 

Gambar alur Algoritma pemeriksaan sputum yang sudah direkomendasikan oleh WHO.

Gambar alur Algoritma pemeriksaan sputum yang sudah direkomendasikan oleh WHO. Sumber: Ministry of Health, Labour and Welfare.

 

Mari bersama-sama kita lakukan percepatan penyelesaian TB di Indonesia, mulai dari deteksi cepat dan tepat, dengan menggunakan best practice yang telah direkomendasikan oleh WHO sejak 2010!

Pelajari selengkapnya mengenai Xpert MTB/RIF Ultra dengan menghubungi kami melalui berikut ini: [divi_library_shortcode id=”62397″]

Referensi Artikel:

Laporan Kasus Tuberkulosis (TBC) Global Dan Indonesia 2022. (2022, November 30). Yayasan KNCV Indonesia. https://yki4tbc.org/laporan-kasus-tbc-global-dan-indonesia-2022/ [diakses pada 24 Februari 2023].

Japan Pre-Entry Tuberculosis Screening – TECHNICAL INSTRUCTIONS Version 1. (2020). Ministry of Health, Labour and Welfare. https://www.mhlw.go.jp/content/000613445.pdf [diakses pada 24 Februari 2023].

Pramana, P.H. (2021). Spesifisitas Dan Sensitivitas Pemeriksaan Mikroskopis Tbc Dibandingkan Pemeriksaan Kultur Tbc Pada Pasien Tuberkulosis Di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. ISSN: 2597-8012 Jurnal Medika Udayana, Vol. 10 No.6.

PENGUMUMAN PENGGUNAAN RUMAH SAKIT RUJUKAN KEDUTAAN BESAR BAGI PEMOHON VISA KOREA. (2020). Korea Visa Application Center. http://www.visaforkorea-in.com/Ba/notice_view.aspx?idx=917 [diakses pada 24 Februari 2023].

Guidance Tuberculosis testing in Indonesia. (2022, Oktober 25). Government UK. https://www.gov.uk/government/publications/tuberculosis-test-for-a-uk-visa-clinics-in-indonesia/tuberculosis-testing-in-indonesia [diakses pada 23 Februari 2023].

Explore visa options for studying in Australia. (2022). Australian Government Department of Home Affairs Immigration and Citizenship. https://immi.homeaffairs.gov.au/visas/getting-a-visa/visa-finder/study [diakses 23 februari 2023].

Kualitas Terjamin, Layanan Kesehatan Terbaik!

Tingkatkan layanan kesehatan yang Anda berikan dengan menggunakan alat kesehatan yang terjamin kualitasnya dan diakui lembaga internasional.